...adalah "garing". Variasinya antara lain: jayus, basi, kuno, kampungan, pasaran.
"Garing" adalah kata yang digunakan seseorang, saat malas berpikir, untuk merendahkan gagasan (lelucon, puisi, maupun cerita pun gagasan) orang lain dan meninggikan diri sendiri (karena dengan menghujat "garing", sekaligus mengklaim bahwa sang penghujat tidak garing). Alih-alih menjelaskan kenapa suatu ide tidak bekerja/lucu/autentik, kita menggunakan "garing".
Salah dua penyebab garing menjadi pilihan populer adalah waktu dan kebiasaan. Banyak orang Indonesia yang tidak siap jika diminta opini dadakan. Alhasil, yang keluar adalah opini satu kata. "Gimana acaranya?" "Keren!" "Si A gimana orangnya?" "Asik!"
Wajar saja kalau ada yang berusaha melucu dan gagal, komentar orang-orang seperti ini adalah, "Garing!" Biasa satu kata. Seperti kata pepatah, "Alah bisa[nya cuman gitu] karena biasa."
Waktu juga masalah pelik. Saat seseorang berusaha mengejek pria kurus, misalnya, dengan lelucon yang sudah diceritakan beribu-ribu kali, "Badan lu kok kayak papan cucian, sih?" Jawaban harus disampaikan sebelum lima detik. Kalau tidak, percuma. Berhubung tidak biasa, balik lagi ke "Basi!" atau "Garing ah, kreatif dikit kalau ngejek, dong."
Karena itu, sebaiknya kita membuat perjanjian baru. Dalam situasi seperti di atas, daripada menggunakan garing dan kawan-kawan, lebih baik kita bit dulu dan bertukaran nomor telepon. Nanti, saat kita sudah siap, tinggal hubungi nomor tersebut.
"Halo, bisa bicara dengan Johan?"
"Saya sendiri."
"Oke, sebentar." Terdengar suara lipatan kertas dibuka. "Kalau kau pergi ke hutan dan menebang pohon--bukan, bukan ini." Suara tangan menyibak kertas. "Nyonya, Anda terlihat cantik, tapi saya sedang mabuk--halah, bukan juga."
"Mau ngapain sih?"
"Lu kemaren menghina rambut gua?"
"Bukan. Tubuh lu yang kurus."
"Oh, salah kotret kalau gitu. Bisa gua telepon lagi nanti?"
"Silakan."
Kembali pada pembicaraan yang serius, penggunaan kata garing bertanggung jawab atas:
a) Menghalangi kita untuk berpikir dan menemukan jawaban yang lebih cerdas
Orang dalam budaya berbahasa Inggris, secara umum lebih lancar dalam menyusun dan mengucapkan opini. Ambillah contoh seperti para penyanyi rap dan atlet basketball. Mereka sering digeneralisir maupun direndahkan kemampuan intelijensinya. Namun, saat diwawancara, ucapan mereka terunut logis dan jelas. Dari ngalor ngidul sampai saling cerca (thrash talk) lancar.
Menurut saya, ini disebabkan bahasa Inggris tidak mengenal satu kata seperti "garing" yang menjadi guilotin sakti bagi lawan bicara. Kalau ucapan orang lain ngaco, kita perlu mendebat balik. Mengejek balik juga oke asalkan poin dan logikanya jelas. Dengan kata lain, semua orang dituntut untuk berpikir. Sementara dalam budaya berbahasa Indonesia, tidak usah. Cukup katakan, "Garing lu!" Beres.
b) Menghentikan proses diskusi lebih lanjut yang bisa mematangkan ide
Pernahkah Anda menyampaikan satu ide dengan berapi-api? Anda merasa yakin bahwa jika ide ini dilaksanakan seperti bayangan Anda, hasilnya pasti sukses besar. Namun, rekan Anda hanya mengerutkan kening dan berkomentar, "Garing ah. Jangan deh."
Apakah tiba-tiba Anda jadi mendapatkan pencerahan? "Oh astaga! Benar juga. Untung kamu ngomong gitu. Jadi saya tiba-tiba mendapat inspirasi baru. Kita sebaiknya melakukannya begini." Anda pun mengotret ide baru tersebut.
"Nah! Itu baru keren!" sambutnya. Dan kalian pun berjingkrak-jingkrak gembira.
Dalam dongeng saja tidak pernah terjadi.
Kenyataannya, begitu seseorang dalam kelompok memvonis garing, matilah semua energi positif. Keran-keran ide mampet. Tiap orang jadi makin takut untuk mengeluarkan pendapat. "Nanti dibilang garing lagi di depan umum. Malu dong."
Kalau Anda ingin membuat tim kreatif dalam perusahaan, coret kata garing dalam kamus bersama. Bikin SOP kalau perlu: jika ingin mengkritik ide (termasuk lelucon), harus ada alasan dan umpan balik. Kenapa ide itu buruk? Bagaimana agar bisa lebih baik? Dan barangsiapa yang mengucapkan garing harus mentraktir makan siang seluruh anggota tim. Dalam satu sesi saja, bisa jadi jatah sebulan makan siang gratis sudah tersedia.
Kunci utama: lawanlah efek sosial garing. Jika ada orang digaringi di depan publik, jangan diam saja. Dan jika Anda yang digaringi, lawan! Minta kejelasan. Minta contoh nyata kalau si penggaring (orang yang berteriak garing) itu bukan maling teriak maling. Kalau mereka masih ngotot juga, ya sudahlah.
Mereka garing sih. (Lho?)
Kamis, 02 April 2009
Penguasaan Tempo
Salah satu kunci untuk mempelajari penulisan berbagai genre adalah penguasaan tempo (timing). Genre misteri, misalnya, akan berantakan jika belum juga ketegangan berjalin, pelakunya sudah ketahuan. Bisa jadi malah salah genre.
Alasan lainnya adalah permainan tempo. Di saat emosi sedang memuncak, penonton butuh penyaluran ketegangan (tension relief). Dan dengan menaruh adegan komedi, penonton memiliki cara untuk melepaskan sebagian ketegangan itu, yakni melalui tawa. Ini yang disebut dengan comedy relief.
Sebagai contoh, pada adegan di galeri seni, tokoh Meimei ditemani dua orang kenalan yang sok suci, mengejek kelakuan orang-orang yang menurut mereka "hedon". Ternyata salah satu orang yang diejek tersebut adalah Andien, sahabat lama Meimei. Meimei bertengkar dengan Andien dan kemudian menyeretnya ke dalam WC wanita. Di dalam, pertengkaran semakin menghebat hingga Meimei sangat terpukul oleh kata-kata pedas sahabatnya. Begitu Andien meninggalkan Meimei, ternyata kedua tokoh sok suci tersebut kepergok meninggalkan salah satu ruang toilet sambil membereskan baju.(1)
Jika Anda belum pernah menonton Arisan, bisa jadi bingung: lucunya di mana? Namun saya menyaksikan sendiri bagaimana para penonton bioskop tertawa lepas di adegan ini.
Adegan ini tidak akan mengundang tawa seandainya ditaruh sembarangan. Ditaruh di awal, misalnya, mereka kepergok dulu. Lantas selanjutnya berkomentar mengenai orang-orang hedon. Jadinya bukan komedi, hanya sekadar sinis. Keberhasilan adegan ini mengundang tawa sebagian besar karena faktor tadi: pewaktuan. Saat penonton butuh tertawa untuk melepaskan ketegangan, berilah adegan yang bisa mereka manfaatkan untuk tertawa.
Intinya: penguasaan tempo adalah pegangan kita untuk mengeksplorasi suatu genre fiksi yang belum kita kuasai. Sebelum kita coba menulis dalam genre tersebut, bacalah karya-karya sealiran. Setelah kita menemukan tempo yang alamiah, barulah coba menulis. Kalau tidak begitu, reaksi yang umumnya muncul adalah, "Ternyata susah ya, nulis cerita komedi/drama/horor/aksi/lainnya."
Bisa jadi itu pertanda kita menganggap remeh genre tersebut.
_______
(1): Sebenarnya sedikit aneh bagaimana dua orang ini bisa masuk ke toilet duluan sebelum Meimei dan temannya. Namun, ini nggak dibahas karena topiknya bukan realitas dalam fiksi (believability).
"Nyonya Tini tewas?" seru Farhan panik. Matanya membelalak. “Siapa yang membunuhnya?”Drama komedi juga sangat mengandalkan kepada pewaktuan. Dalam buku skenario "Arisan", Nia diNATA menjelaskan bahwa ia selalu menaruh adegan menggelitik di saat emosi memuncak. Karena ia tidak ingin adegan menjadi terlalu larut pada kesedihan, yang justru malah kental digunakan dalam sinetron.
Menghadapi reaksi temannya, Budi hanya menggaruk-garuk kepala, "Bukannya kamu?"
Farhan tertegun. "Oh, iya, ya," ujarnya sambil menepukkan kepalan ke telapak tangan.
Alasan lainnya adalah permainan tempo. Di saat emosi sedang memuncak, penonton butuh penyaluran ketegangan (tension relief). Dan dengan menaruh adegan komedi, penonton memiliki cara untuk melepaskan sebagian ketegangan itu, yakni melalui tawa. Ini yang disebut dengan comedy relief.
Sebagai contoh, pada adegan di galeri seni, tokoh Meimei ditemani dua orang kenalan yang sok suci, mengejek kelakuan orang-orang yang menurut mereka "hedon". Ternyata salah satu orang yang diejek tersebut adalah Andien, sahabat lama Meimei. Meimei bertengkar dengan Andien dan kemudian menyeretnya ke dalam WC wanita. Di dalam, pertengkaran semakin menghebat hingga Meimei sangat terpukul oleh kata-kata pedas sahabatnya. Begitu Andien meninggalkan Meimei, ternyata kedua tokoh sok suci tersebut kepergok meninggalkan salah satu ruang toilet sambil membereskan baju.(1)
Jika Anda belum pernah menonton Arisan, bisa jadi bingung: lucunya di mana? Namun saya menyaksikan sendiri bagaimana para penonton bioskop tertawa lepas di adegan ini.
Adegan ini tidak akan mengundang tawa seandainya ditaruh sembarangan. Ditaruh di awal, misalnya, mereka kepergok dulu. Lantas selanjutnya berkomentar mengenai orang-orang hedon. Jadinya bukan komedi, hanya sekadar sinis. Keberhasilan adegan ini mengundang tawa sebagian besar karena faktor tadi: pewaktuan. Saat penonton butuh tertawa untuk melepaskan ketegangan, berilah adegan yang bisa mereka manfaatkan untuk tertawa.
Intinya: penguasaan tempo adalah pegangan kita untuk mengeksplorasi suatu genre fiksi yang belum kita kuasai. Sebelum kita coba menulis dalam genre tersebut, bacalah karya-karya sealiran. Setelah kita menemukan tempo yang alamiah, barulah coba menulis. Kalau tidak begitu, reaksi yang umumnya muncul adalah, "Ternyata susah ya, nulis cerita komedi/drama/horor/aksi/lainnya."
Bisa jadi itu pertanda kita menganggap remeh genre tersebut.
_______
(1): Sebenarnya sedikit aneh bagaimana dua orang ini bisa masuk ke toilet duluan sebelum Meimei dan temannya. Namun, ini nggak dibahas karena topiknya bukan realitas dalam fiksi (believability).
Membuat Cerita Lebih Berbobot
Tanya:
Bagaimana cara membuat cerita kita jadi lebih berbobot?
Jawab:
Mungkin akan terdengar membosankan, tapi jawabannya adalah: menguatkan dasar-dasar penulisan kreatif.
a) Penggunaan tanda baca dan diksi
Menguasai tanda baca bukan sekadar tahu di mana menaruh titik, koma, tanda kutip dan kawan-kawan. Melainkan juga paham fungsinya. Misalnya, koma memberikan jeda. Sementara titik menyuruh kita berhenti dan menyatukan makna kalimat yang kita baca.
Pengolahan diksi juga bukan sekadar menggunakan kata-kata yang terasa indah. Atau pengulang-ulangan. Namun juga bagaimana menyampaikan cerita agar terasa mengalir. Dan terbayang jelas di benak.
Jangan sembarangan memanjangkan kalimat dengan merantai-rantai koma. Atau lupa diri membumbui kalimat dengan kata-kata indah. Karena bisa membuat pembaca kehabisan napas.
Napas? Ya, ada yang namanya napas membaca.
b) Menyamakan napas membaca (bermain tempo)
Dalam menari berpasangan, kita akan diajarkan untuk menyamakan napas dengan pasangan kita. Menulis juga sama dengan berdansa. Kita perlu menyamakan napas dengan pembaca. Kalau kita terus-menerus membawa pembaca dengan alur cepat, mereka bisa ketinggalan langkah.
Cobalah ingat saat kita asyik membaca cerita. Cerita serasa berputar di benak kita. Menari. Ketika kita harus membalik halaman untuk membaca sekali lagi, keasikan itu terganggu. Tarian di benak kita berhenti. Terpaksa mulai lagi dari berpegangan tangan dan melangkah.
Dan itu meliputi juga dua bagian berikut;
c) Menguntai paragraf
d) Menyajikan alur cerita
e) Penokohan dan interaksi antartokoh
Inilah faktor utama pengait emosi pembaca. Plot kita bisa sederhana saja: cinta antara dua orang manusia. Tapi dengan tokoh yang kuat, pembaca bisa tetap memiliki keterkaitan emosi yang hebat.
Apa hubungannya lima poin di atas dengan cerita yang lebih berbobot? Memangnya, apakah definisi berbobot bagi kamu?
1) Apakah menulis cerita yang tidak pernah dipikirkan orang sebelumnya?
2) Apakah menulis plot yang begitu kompleks agar pembaca bingung dalam memahaminya?
3) Atau apakah menulis suatu cerita yang berisikan suara khas kita, penulisnya? Sehingga karya ini menjadi otentik?
Bagi saya, cerita berbobot itu adalah yang ketiga. Cerita jenis pertama sudah tidak ada lagi di dunia. Dan jenis kedua pasti berhasil dalam tujuannya: membuat bingung.
Tapi ini sekadar pendapat saya. Bisa saja salah.
Bagaimana cara membuat cerita kita jadi lebih berbobot?
Jawab:
Mungkin akan terdengar membosankan, tapi jawabannya adalah: menguatkan dasar-dasar penulisan kreatif.
a) Penggunaan tanda baca dan diksi
Menguasai tanda baca bukan sekadar tahu di mana menaruh titik, koma, tanda kutip dan kawan-kawan. Melainkan juga paham fungsinya. Misalnya, koma memberikan jeda. Sementara titik menyuruh kita berhenti dan menyatukan makna kalimat yang kita baca.
Pengolahan diksi juga bukan sekadar menggunakan kata-kata yang terasa indah. Atau pengulang-ulangan. Namun juga bagaimana menyampaikan cerita agar terasa mengalir. Dan terbayang jelas di benak.
Jangan sembarangan memanjangkan kalimat dengan merantai-rantai koma. Atau lupa diri membumbui kalimat dengan kata-kata indah. Karena bisa membuat pembaca kehabisan napas.
Napas? Ya, ada yang namanya napas membaca.
b) Menyamakan napas membaca (bermain tempo)
Dalam menari berpasangan, kita akan diajarkan untuk menyamakan napas dengan pasangan kita. Menulis juga sama dengan berdansa. Kita perlu menyamakan napas dengan pembaca. Kalau kita terus-menerus membawa pembaca dengan alur cepat, mereka bisa ketinggalan langkah.
Cobalah ingat saat kita asyik membaca cerita. Cerita serasa berputar di benak kita. Menari. Ketika kita harus membalik halaman untuk membaca sekali lagi, keasikan itu terganggu. Tarian di benak kita berhenti. Terpaksa mulai lagi dari berpegangan tangan dan melangkah.
Dan itu meliputi juga dua bagian berikut;
c) Menguntai paragraf
d) Menyajikan alur cerita
e) Penokohan dan interaksi antartokoh
Inilah faktor utama pengait emosi pembaca. Plot kita bisa sederhana saja: cinta antara dua orang manusia. Tapi dengan tokoh yang kuat, pembaca bisa tetap memiliki keterkaitan emosi yang hebat.
Apa hubungannya lima poin di atas dengan cerita yang lebih berbobot? Memangnya, apakah definisi berbobot bagi kamu?
1) Apakah menulis cerita yang tidak pernah dipikirkan orang sebelumnya?
2) Apakah menulis plot yang begitu kompleks agar pembaca bingung dalam memahaminya?
3) Atau apakah menulis suatu cerita yang berisikan suara khas kita, penulisnya? Sehingga karya ini menjadi otentik?
Bagi saya, cerita berbobot itu adalah yang ketiga. Cerita jenis pertama sudah tidak ada lagi di dunia. Dan jenis kedua pasti berhasil dalam tujuannya: membuat bingung.
Tapi ini sekadar pendapat saya. Bisa saja salah.
Ide Tidak Akan Berharga, Tanpa Diwujudkan
Dalam berbagai acara dan kesempatan, banyak sekali hadirin yang berkata, "Saya ingin menulis cerita, tapi idenya masih belum terlalu bagus. Jadi saya cari-cari dulu." Ini adalah pola pikir yang merugikan diri sendiri. Karena dalam penulisan kreatif, ide memang tampak sangat berharga. Tapi hanya kalau sudah diwujudkan.
Sebagai contoh, Donna mendapatkan banyak surat pembaca yang berkata bahwa mereka juga pernah memikirkan ide yang serupa dengan salah satu novel Donna. Terlepas dari benar atau tidak, ada satu perbedaan yang jelas: Donna benar-benar mewujudkan ide itu. Ide Donna menjadi jauh lebih bernilai daripada yang hanya tersimpan di benak.
Derek Sivers, presiden dan pemrogram CD Baby dan HostBaby berkata, "Menurut saya, ide tidak ada harganya kalau tidak direalisasikan. Ide itu sekadar pengali. Realisasilah yang bernilai jutaan."
Hal ini juga berlaku untuk penulisan kreatif. Dengan mengadaptasi contoh Derek mengenai bisnis, nilai suatu karya ditentukan dari pengalian antara dua hal:
1. Ide (cerita):
2. Penulisan (dan penceritaan):
Ide paling hebat, jika tidak dituliskan, hanya bernilai Rp20.000. Bahkan ide standar pun jika ditulis dengan bagus akan berharga Rp25 juta. Dan itu akan lebih bernilai daripada ide luar biasa yang ditulis secara standar (Rp20 juta).
Jangan menghabiskan usaha terlalu banyak untuk mencari ide luar biasa. Cukup milikilah inti pesan yang kuat. Paling jelek, ide kita akan standar.
Apa salahnya? Novel seperti Harry Potter dan Stardust tidak benar-benar memunculkan ide yang baru. J.K. Rowling meramu berbagai mitologi dan hikayat ke dalam plotnya. Tidak perlu saya jelaskan lagi kesuksesan seri ini dalam memikat para pembaca setianya. Lalu, konsep perjalanan bersama dua tokoh asing sehingga menjalin ikatan batin yang kuat juga tidak baru. Tapi Neil Gaiman dapat mengolahnya menjadi novel fantasi yang khas.
Jadi, pusatkanlah usaha kita pada menghasilkan penulisan yang sebaik mungkin, khas kita sendiri. Dengan kata lain: otentik.
Sebagai contoh, Donna mendapatkan banyak surat pembaca yang berkata bahwa mereka juga pernah memikirkan ide yang serupa dengan salah satu novel Donna. Terlepas dari benar atau tidak, ada satu perbedaan yang jelas: Donna benar-benar mewujudkan ide itu. Ide Donna menjadi jauh lebih bernilai daripada yang hanya tersimpan di benak.
Derek Sivers, presiden dan pemrogram CD Baby dan HostBaby berkata, "Menurut saya, ide tidak ada harganya kalau tidak direalisasikan. Ide itu sekadar pengali. Realisasilah yang bernilai jutaan."
Hal ini juga berlaku untuk penulisan kreatif. Dengan mengadaptasi contoh Derek mengenai bisnis, nilai suatu karya ditentukan dari pengalian antara dua hal:
1. Ide (cerita):
- Ide superjelek = 0
- Ide buruk = 1
- Ide standar = 25
- Ide bagus = 100
- Ide luar biasa = 200
2. Penulisan (dan penceritaan):
- Tidak dituliskan = Rp100
- Penulisan buruk = Rp1.000
- Penulisan standar = Rp100.000
- Penulisan bagus = Rp1.000.000
- Penulisan luar biasa = Rp10.000.000
Ide paling hebat, jika tidak dituliskan, hanya bernilai Rp20.000. Bahkan ide standar pun jika ditulis dengan bagus akan berharga Rp25 juta. Dan itu akan lebih bernilai daripada ide luar biasa yang ditulis secara standar (Rp20 juta).
Jangan menghabiskan usaha terlalu banyak untuk mencari ide luar biasa. Cukup milikilah inti pesan yang kuat. Paling jelek, ide kita akan standar.
Apa salahnya? Novel seperti Harry Potter dan Stardust tidak benar-benar memunculkan ide yang baru. J.K. Rowling meramu berbagai mitologi dan hikayat ke dalam plotnya. Tidak perlu saya jelaskan lagi kesuksesan seri ini dalam memikat para pembaca setianya. Lalu, konsep perjalanan bersama dua tokoh asing sehingga menjalin ikatan batin yang kuat juga tidak baru. Tapi Neil Gaiman dapat mengolahnya menjadi novel fantasi yang khas.
Jadi, pusatkanlah usaha kita pada menghasilkan penulisan yang sebaik mungkin, khas kita sendiri. Dengan kata lain: otentik.
Narasi yang Memikat
Narasi deskriptif adalah bagian yang sama menantangnya seperti dialog. Narasi yang kuat akan dapat menghanyutkan pembaca dalam dunia ciptaan penulis. Sebaliknya, narasi yang lemah akan senantiasa mengingatkan pembaca bahwa ia sedang duduk dan membaca buku.
Sebagian besar pembaca Da Vinci Code mengaku bahwa narasi deskriptif Dan Brown memang menghanyutkan. Mereka merasa sedang mengendap-endap dalam kegelapan museum Louvre. Atau berlarian di kota Paris. Padahal narasi Dan Brown ini sangatlah panjang. Jika dikerjakan sembarangan, pembaca akan segera sadar sedang membaca buku dan mudah bosan. Salah satu kunci keberhasilan Dan Brown adalah membuat narasinya menarik untuk dibaca.
Jadi bagaimana agar kita dapat menulis narasi yang lebih menarik? Cukup gunakan dua prinsip ini: Pertama, libatkan sebanyak mungkin indra. Kedua, tunjukkan--jangan dijelaskan.
Banyak prosa yang hanya melibatkan dua indra: pendengaran dan penglihatan. Seperti contoh berikut.
Dengan prosa seperti ini, kita tidak membantu pembaca untuk membayangkan adegan. Kita pun hanya mendorong pembaca untuk melihat atau mendengar cerita.
Bantulah pembaca lebih jauh. Buat mereka melihat, mendengar, menyentuh, mengecap, berlari, hingga berteriak bersama tokoh-tokoh kita. Lalu tunjukkanlah melalui tokoh kita. Jangan sekadar menjelaskannya. Prosa di atas, misalnya, bisa kita ubah menjadi;
Kalau begitu, apakah jadinya tulisan yang lebih panjanglah yang lebih menarik? Tidak juga. Karena kita tidak akan menggunakan pendekatan ini untuk semua adegan. Justru dengan membiasakan diri untuk menunjukkan, alih-alih menjelaskan, kita akan dapat membedakan antara adegan yang penting dan yang tidak.
Contoh di atas akan tepat kala inti yang ingin kita sampaikan adalah keterikatan tokoh Dio dengan kebun pamannya. Namun, akan salah jika inti cerita ternyata anjing baru paman Dio.
Buatlah adegan penting menjadi lebih memikat. Dan potong habis adegan yang tidak penting. Inilah yang membuat cerita menjadi memikat.
Latihan Pribadi
Pilihlah sebuah cerita lama. Ambil satu bagian penting narasi yang hanya melibatkan satu atau dua indra. Dalam waktu lima belas menit, cobalah tulis ulang. Libatkan sebanyak mungkin indra. Tunjukkan, jangan jelaskan. Setelah selesai, bandingkan dengan tulisan awalnya.
Sebagian besar pembaca Da Vinci Code mengaku bahwa narasi deskriptif Dan Brown memang menghanyutkan. Mereka merasa sedang mengendap-endap dalam kegelapan museum Louvre. Atau berlarian di kota Paris. Padahal narasi Dan Brown ini sangatlah panjang. Jika dikerjakan sembarangan, pembaca akan segera sadar sedang membaca buku dan mudah bosan. Salah satu kunci keberhasilan Dan Brown adalah membuat narasinya menarik untuk dibaca.
Jadi bagaimana agar kita dapat menulis narasi yang lebih menarik? Cukup gunakan dua prinsip ini: Pertama, libatkan sebanyak mungkin indra. Kedua, tunjukkan--jangan dijelaskan.
Banyak prosa yang hanya melibatkan dua indra: pendengaran dan penglihatan. Seperti contoh berikut.
Langit tampak cerah kala Dio melangkah dalam taman pamannya. Padahal malam sebelumnya hujan deras sekali. Taman itu penuh oleh berbagai rumpun dan bunga di satu sisi, dengan jalan tanah yang dihiasi rumput gajah. Ia menghampiri pojok kesukaannya, yang ditempati putri malu, soka, dan bunga trompet.
Namun, tiba-tiba seekor anjing menyeruak ke dalam taman sambil menyalak keras. Saking terperanjatnya, Dio tidak mampu bergerak.
Dengan prosa seperti ini, kita tidak membantu pembaca untuk membayangkan adegan. Kita pun hanya mendorong pembaca untuk melihat atau mendengar cerita.
Bantulah pembaca lebih jauh. Buat mereka melihat, mendengar, menyentuh, mengecap, berlari, hingga berteriak bersama tokoh-tokoh kita. Lalu tunjukkanlah melalui tokoh kita. Jangan sekadar menjelaskannya. Prosa di atas, misalnya, bisa kita ubah menjadi;
Telapak Dio memayungi matanya dari cahaya surya. Semburat biru langit memudar hingga putih di kejauhan. Bagai kanvas yang bebas dari gumpalan awan. Langkah Dio terasa lebih ringan menapaki kebun pamannya. Kakinya hanya bercawatkan sendal jepit, sehingga telapak rumput gajah langsung menggelitiki kulitnya. Ia berhenti dan berjongkok, ganti menjawil serumpun putri malu yang langsung menyelubungi diri. Wangi tanah basah menyusupi hidungnya. Beralih ke sebelah, Dio memetik lembut sekuntum bunga soka. Ia mengendusnya, seraya menggesekkan bunga putih kekuningan itu ke hidungnya. Lantas ia hisap cairan di pucuknya. Manis walau sesaat. Lidahnya mencari-cari, tapi rasa itu telah lenyap.
Dio berniat memetik sekuntum soka lagi sebelum dibatalkan kerikan jangkrik. Membungkuk, Dio mencari-cari. Semakin keras kerikan, semakin awas gerakannya. Perlahan, ia membelai dan menepis serumpun bunga terompet. Dan ia menemukannya! Menempel di batang terdalam, hijau jangkrik itu menyatu dengan tempatnya hinggap. Tak bersuara. Sang jangkrik mempertaruhkan keselamatannya pada sunyi. Tangan Dio maju, dua jari membentuk capit. Sedikit lagi sayap jangkrik akan terkunci dan...
FWOGH-WOGH-WOGH-WOGH! WOOGH! WOOGH!
Dio terlompat mundur. Kedua tangannya lepas kendali hingga membentur dahi. Erangan pendek terlepas dari mulutnya. Hanya itu, selagi ia melihat seekor anjing berlari ke arahnya sambil menyalak keras. Kaki Dio seperti terpaku ke tanah. Mulutnya tersumpal. Matanya melekat pada barisan taring anjing yang berselaput liur.
Kalau begitu, apakah jadinya tulisan yang lebih panjanglah yang lebih menarik? Tidak juga. Karena kita tidak akan menggunakan pendekatan ini untuk semua adegan. Justru dengan membiasakan diri untuk menunjukkan, alih-alih menjelaskan, kita akan dapat membedakan antara adegan yang penting dan yang tidak.
Contoh di atas akan tepat kala inti yang ingin kita sampaikan adalah keterikatan tokoh Dio dengan kebun pamannya. Namun, akan salah jika inti cerita ternyata anjing baru paman Dio.
Buatlah adegan penting menjadi lebih memikat. Dan potong habis adegan yang tidak penting. Inilah yang membuat cerita menjadi memikat.
Latihan Pribadi
Pilihlah sebuah cerita lama. Ambil satu bagian penting narasi yang hanya melibatkan satu atau dua indra. Dalam waktu lima belas menit, cobalah tulis ulang. Libatkan sebanyak mungkin indra. Tunjukkan, jangan jelaskan. Setelah selesai, bandingkan dengan tulisan awalnya.
Milikilah Pesan dan Bersenang-senanglah
"Menulis memang mudah," ujar Donna pada anak-anak SMP Madania, Bogor. Puluhan pasang mata memerhatikan saat Donna melanjutkan, "Hanya kalau kamu serius melakukannya."
Kumpulan anak-anak ini baru saja menyelesaikan tugas mereka, membuat novel dalam satu bulan! Acara Writing Open Day ini adalah akhir dari rangkaian pembelajaran mereka. Pada hari ini, karya sejumlah penulis belia ini akan mendapatkan penghargaan. Para praktisi industri perbukuan pun akan ikut berbagi pengalaman. Benny Rhamdani dari Mizan mewakili penyunting. Sementara Donna dan saya mewakili penulis.
Beberapa anak tampak mengangguk. Namun ada juga yang mengeryitkan kening. "Serius nggak selalu menyeramkan, kok," lanjut saya. "Main basket juga bisa serius. Dan kita tetap senang saja melakukannya."
Kami pun mulai dari mengajak para penulis belia ini bertanya pada diri sendiri, "Mengapa kita menulis?" Cara mudahnya, ingatlah karya yang membuat kita benar-benar merasa, "Karya seperti inilah yang ingin aku tulis." Lalu pikirkan, "Kenapa?" Ingat juga karya yang berkesan panjang dalam diri kita. Boleh novel, film, atau komik. Apa persamaan antara cerita-cerita ini?
Umumnya, karya-karya tersebut memiliki pesan. Dan bukan pesan moral gamblang yang sekadar ditempel di belakang cerita seperti, "Janganlah mencuri, adik-adik. Mencuri itu tidak baik."
Justru sebaliknya. Semakin bagus karya, semakin tidak gamblang pesannya. Tapi malah tertanam dengan kuat pada diri kita. Banyak anak yang membaca Harry Potter, misalnya, terinspirasi untuk menjadi pahlawan. Banyak orang dewasa juga yang kembali merenungi hidup setelah membaca karya Mitch Albom, Five People You Meet in Heaven. Pesan ini terkandung seutuhnya dalam cerita.
Dan inilah yang membuat perbedaan antara karya yang menggugah dan karya yang biasa-biasa saja.
Meneruskan obrolan tentang karya yang menggugah, Donna menanyakan karakter apa yang para hadirin sukai dari Harry Potter? Jawabannya beragam. "Harry!" seru seorang anak lelaki yang begitu didekati malah malu. "Hermione!" tukas seorang anak perempuan dengan tegas.
"Ada yang suka Ron?" tanya saya. "Hagrid?" Walau sembunyi-sembunyi, ada yang mengangguk.
"Selain pesan, ini juga salah satu keunggulan karya yang menggugah," ucap Donna. "Pembaca mana pun akan dapat menemukan dirinya pada salah satu karakter dalam cerita."
"Bayangkan kalau kita membaca cerita seperti ini," ucap saya sembari membuka slide yang menunjukkan gambar di kanan ini. "Narasinya cantik dan bahasanya indah, seperti pemandangan ini. Tapi tidak ada penggambaran tokoh. Kira-kira berapa lama sebelum kita bosan?" Sambil melangkah ke tengah, saya melanjutkan. "Coba saja, kalau melihat foto bersama, wajah siapa yang pertama-tama kita cari?" Seorang anak lelaki berambut keras yang duduk di barisan kanan menunjuk dirinya sambil tersenyum hingga pipinya membulat.
Anak itu, yang mengenalkan diri sebagai Valdi, sudah menangkap intinya. Walaupun kita membuat cerita fantasi di antah berantah, pembaca akan selalu mencari relevansi antara dirinya dengan tokoh cerita. Karena itu, penokohan yang kuat dan membumi, serta interaksi antar karakterlah yang menjadi kunci kedekatan emosi pembaca.
Star Wars, sebagai contoh, berlatarkan dunia antah-berantah berteknologi tinggi. Namun, salah satu adegan yang paling diingat para penonton justru bukan kecanggihan teknologinya. Begitu trilogi kedua dibuat dengan bantuan pencitraan komputer, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan adegan ini. Adegan mana yang saya maksud? Tak lain ketika Luke menyadari bahwa Darth Vader adalah ayahnya.
Obrolan di Aula MPH ini terus berlanjut. Dari berbagai teknik penulisan (memulai cerita, show, don't tell, orisinal versus autentik, dan manajemen konflik) hingga tips untuk mencari ide maupun melawan kebosanan dalam menulis. Para penanya juga mendapatkan hadiah buku dan notes eksklusif Gramedia Pustaka Utama.
Menjelang akhir, sejumlah anak mulai kehilangan konsentrasi. Udara di aula sendiri semakin terasa panas. Namun, mereka kembali memerhatikan saat kami menayangkan beberapa klip video menggelitik untuk menunjukkan ilustrasi tentang pentingnya mengambil sudut pandang yang berbeda, memikat pembaca dari awal, hingga pentingnya memeriksa ulang (check and recheck) tulisan. Barisan depan pun tergelak saat saya dan Donna mengajak mereka untuk bermain-main dengan tulisan saat bosan. Misalnya, membayangkan naskah mereka dibawa ke unit gawat darurat dalam ambulan yang sirenenya berbunyi mentok-mentok-mentok-mentok-mentok-mentok.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter.
"Naskah saya sekarat, Dok! Ceritanya mentok saat tokoh cowok bingung mau jadian apa nggak?"
"Tambahin konflik aja," ujar dokter sambil memasang infus. "Munculin orang baru yang kayaknya disukai ama si cewek."
"Saat jenuh, break aja," simpul Donna. "Atau kembalikan kesenangan kita untuk menulis."
"Ya, jangan sampai menulis jadi beban," tambah saya. "Saya contohkan basket lagi. Apa bedanya main biasa dengan pertandingan? Pertandingan bisa bikin kita jadi terbebani. Tapi main basketnya tidak jera, kan? Karena kita suka. Menulis juga gitu. Untuk mengatasi kejenuhan, cobalah menulis dengan tujuan bersenang-senang."
"Dengan begitu," tutup Donna. "Menulis menjadi mudah."
Kumpulan anak-anak ini baru saja menyelesaikan tugas mereka, membuat novel dalam satu bulan! Acara Writing Open Day ini adalah akhir dari rangkaian pembelajaran mereka. Pada hari ini, karya sejumlah penulis belia ini akan mendapatkan penghargaan. Para praktisi industri perbukuan pun akan ikut berbagi pengalaman. Benny Rhamdani dari Mizan mewakili penyunting. Sementara Donna dan saya mewakili penulis.
Beberapa anak tampak mengangguk. Namun ada juga yang mengeryitkan kening. "Serius nggak selalu menyeramkan, kok," lanjut saya. "Main basket juga bisa serius. Dan kita tetap senang saja melakukannya."
Kami pun mulai dari mengajak para penulis belia ini bertanya pada diri sendiri, "Mengapa kita menulis?" Cara mudahnya, ingatlah karya yang membuat kita benar-benar merasa, "Karya seperti inilah yang ingin aku tulis." Lalu pikirkan, "Kenapa?" Ingat juga karya yang berkesan panjang dalam diri kita. Boleh novel, film, atau komik. Apa persamaan antara cerita-cerita ini?
Umumnya, karya-karya tersebut memiliki pesan. Dan bukan pesan moral gamblang yang sekadar ditempel di belakang cerita seperti, "Janganlah mencuri, adik-adik. Mencuri itu tidak baik."
Justru sebaliknya. Semakin bagus karya, semakin tidak gamblang pesannya. Tapi malah tertanam dengan kuat pada diri kita. Banyak anak yang membaca Harry Potter, misalnya, terinspirasi untuk menjadi pahlawan. Banyak orang dewasa juga yang kembali merenungi hidup setelah membaca karya Mitch Albom, Five People You Meet in Heaven. Pesan ini terkandung seutuhnya dalam cerita.
Dan inilah yang membuat perbedaan antara karya yang menggugah dan karya yang biasa-biasa saja.
Meneruskan obrolan tentang karya yang menggugah, Donna menanyakan karakter apa yang para hadirin sukai dari Harry Potter? Jawabannya beragam. "Harry!" seru seorang anak lelaki yang begitu didekati malah malu. "Hermione!" tukas seorang anak perempuan dengan tegas.
"Ada yang suka Ron?" tanya saya. "Hagrid?" Walau sembunyi-sembunyi, ada yang mengangguk.
"Selain pesan, ini juga salah satu keunggulan karya yang menggugah," ucap Donna. "Pembaca mana pun akan dapat menemukan dirinya pada salah satu karakter dalam cerita."
"Bayangkan kalau kita membaca cerita seperti ini," ucap saya sembari membuka slide yang menunjukkan gambar di kanan ini. "Narasinya cantik dan bahasanya indah, seperti pemandangan ini. Tapi tidak ada penggambaran tokoh. Kira-kira berapa lama sebelum kita bosan?" Sambil melangkah ke tengah, saya melanjutkan. "Coba saja, kalau melihat foto bersama, wajah siapa yang pertama-tama kita cari?" Seorang anak lelaki berambut keras yang duduk di barisan kanan menunjuk dirinya sambil tersenyum hingga pipinya membulat.
Anak itu, yang mengenalkan diri sebagai Valdi, sudah menangkap intinya. Walaupun kita membuat cerita fantasi di antah berantah, pembaca akan selalu mencari relevansi antara dirinya dengan tokoh cerita. Karena itu, penokohan yang kuat dan membumi, serta interaksi antar karakterlah yang menjadi kunci kedekatan emosi pembaca.
Star Wars, sebagai contoh, berlatarkan dunia antah-berantah berteknologi tinggi. Namun, salah satu adegan yang paling diingat para penonton justru bukan kecanggihan teknologinya. Begitu trilogi kedua dibuat dengan bantuan pencitraan komputer, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan adegan ini. Adegan mana yang saya maksud? Tak lain ketika Luke menyadari bahwa Darth Vader adalah ayahnya.
Menjelang akhir, sejumlah anak mulai kehilangan konsentrasi. Udara di aula sendiri semakin terasa panas. Namun, mereka kembali memerhatikan saat kami menayangkan beberapa klip video menggelitik untuk menunjukkan ilustrasi tentang pentingnya mengambil sudut pandang yang berbeda, memikat pembaca dari awal, hingga pentingnya memeriksa ulang (check and recheck) tulisan. Barisan depan pun tergelak saat saya dan Donna mengajak mereka untuk bermain-main dengan tulisan saat bosan. Misalnya, membayangkan naskah mereka dibawa ke unit gawat darurat dalam ambulan yang sirenenya berbunyi mentok-mentok-mentok-mentok-mentok-mentok.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter.
"Naskah saya sekarat, Dok! Ceritanya mentok saat tokoh cowok bingung mau jadian apa nggak?"
"Tambahin konflik aja," ujar dokter sambil memasang infus. "Munculin orang baru yang kayaknya disukai ama si cewek."
"Saat jenuh, break aja," simpul Donna. "Atau kembalikan kesenangan kita untuk menulis."
"Ya, jangan sampai menulis jadi beban," tambah saya. "Saya contohkan basket lagi. Apa bedanya main biasa dengan pertandingan? Pertandingan bisa bikin kita jadi terbebani. Tapi main basketnya tidak jera, kan? Karena kita suka. Menulis juga gitu. Untuk mengatasi kejenuhan, cobalah menulis dengan tujuan bersenang-senang."
"Dengan begitu," tutup Donna. "Menulis menjadi mudah."
Jangan Jadi Orisinal, Jadilah Otentik
Masih dalam acara Ngobrol Seru (tapi Santai), Luna menyampaikan bahwa ada dua macam penulis. Pertama, adalah yang hanya mau menulis ide-ide hebat. Sebelum ia merasa suatu ide itu benar-benar unik ia tidak akan mau menuliskannya. Begitu terbit, karyanya bisa jadi fenomenal dan menginspirasi banyak orang. Namun, butuh waktu lama sebelum ia kembali berkarya. Bisa jadi sampai sepuluh tahun sekali.
Yang kedua menulis begitu memiliki suatu ide yang cocok. Karena itu, begitu terbit, karyanya tidak sefenomenal tipe pertama. Namun, ia produktif. Dalam setahun, bisa empat buku yang ia hasilkan.
Tipe penulis seperti apakah Anda?
Donna mengajukan dirinya sebagai contoh tipe kedua. Baginya, yang penting adalah menyampaikan pesan kepada sasaran pembaca. Karena itu, ia tidak mencari ide yang fenomenal. Yang ia angkat adalah keseharian. Dan justru cerita keseharian itu yang bisa lebih mengena sasaran pembacanya (mayoritas pembaca remaja).
Isman menambahkan, bahwa kalaupun kita memilih sebagai tipe pertama, tetaplah berkarya. Minimal untuk diri sendiri. Atau kalangan terbatas. Karena dalam penulisan kreatif, ide bagus hanya muncul di antara ide-ide buruk. Dalam sepuluh ide, mungkin hanya satu yang benar-benar bagus. Tetapi, tanpa mewujudkan sembilan ide sebelumnya, ide kesepuluh yang bagus itu tidak akan muncul.
Luna menyetujui dengan mengingatkan pepatah Inggris, "There's nothing new under the sun." Ide sendiri tidak ada yang benar-benar orisinal sekarang. Jadi jangan terlalu ngotot untuk mencari ide yang orisinal.
Ada sisi lain dari pepatah itu, tambah Isman. Ide-ide hebat sekarang sebenarnya merupakan pengolahan dari ide-ide hebat sebelumnya. Bahkan konsep segar atau baru sendiri merupakan perbandingan dengan ide sebelumnya. Ide segar menggunakan pendekatan yang relatif berbeda dengan gagasan pada umumnya. "Itulah yang perlu kita arah," ucap Isman. "Pendekatan yang segar dan otentik. Jangan terlalu terpaku untuk mencari ide orisinal, tapi bikinlah ide itu menjadi khas kita. Otentik."
Donna mengajukan contoh, "Banyak cerita yang mengeksploitasi jeleknya hubungan keluarga. Karena itu, saya malah melakukan sebaliknya. Dalam Quarter Life Fear, Saya membuat hubungan antara tokoh utama dengan orangtuanya sangat dekat. Bahkan saking dekatnya, tak jarang sang tokoh utama merasa sesak sendiri saat butuh privasi. Dan di situlah muncul konflik." Banyak pembaca yang menyukai tokoh Mama Belinda ini, menurut Donna. "Sampai pada ngirim e-mail, bilang pengin punya ibu seperti itu," gelak Donna. "Dan ada juga yang berkomentar, 'Wah, ini kayak Mama gue banget!'"
Isman menyodorkan contoh lain dari buku nonfiksinya, Bertanya atau Mati, "Pernah memerhatikan kebiasaan orang untuk bilang, 'Kapan nyusul'?" tanyanya. Saat orang lain wisuda: Kapan nyusul? Saat ada yang menikah: Kapan nyusul? Saat ada teman yang melahirkan: Kapan nyusul? "Saya coba menawarkan pandangan yang berbeda: kenapa buru-buru sih?" ujar Isman. "Gimana kalau saya ngunjungin rumah duka? Apa nanti saya ditodong juga: Kapan nyusul? Dengan penggambaran itu, saya menyampaikan pendapat bahwa hidup itu bukan perlombaan. Nyante aja. Masing-masing ada waktunya sendiri."
Jadilah otentik. Cari pendekatan yang segar, bukan ide baru. Dan temukanlah pendekatan itu dengan terus berkarya.
Yang kedua menulis begitu memiliki suatu ide yang cocok. Karena itu, begitu terbit, karyanya tidak sefenomenal tipe pertama. Namun, ia produktif. Dalam setahun, bisa empat buku yang ia hasilkan.
Tipe penulis seperti apakah Anda?
Donna mengajukan dirinya sebagai contoh tipe kedua. Baginya, yang penting adalah menyampaikan pesan kepada sasaran pembaca. Karena itu, ia tidak mencari ide yang fenomenal. Yang ia angkat adalah keseharian. Dan justru cerita keseharian itu yang bisa lebih mengena sasaran pembacanya (mayoritas pembaca remaja).
Isman menambahkan, bahwa kalaupun kita memilih sebagai tipe pertama, tetaplah berkarya. Minimal untuk diri sendiri. Atau kalangan terbatas. Karena dalam penulisan kreatif, ide bagus hanya muncul di antara ide-ide buruk. Dalam sepuluh ide, mungkin hanya satu yang benar-benar bagus. Tetapi, tanpa mewujudkan sembilan ide sebelumnya, ide kesepuluh yang bagus itu tidak akan muncul.
Luna menyetujui dengan mengingatkan pepatah Inggris, "There's nothing new under the sun." Ide sendiri tidak ada yang benar-benar orisinal sekarang. Jadi jangan terlalu ngotot untuk mencari ide yang orisinal.
Ada sisi lain dari pepatah itu, tambah Isman. Ide-ide hebat sekarang sebenarnya merupakan pengolahan dari ide-ide hebat sebelumnya. Bahkan konsep segar atau baru sendiri merupakan perbandingan dengan ide sebelumnya. Ide segar menggunakan pendekatan yang relatif berbeda dengan gagasan pada umumnya. "Itulah yang perlu kita arah," ucap Isman. "Pendekatan yang segar dan otentik. Jangan terlalu terpaku untuk mencari ide orisinal, tapi bikinlah ide itu menjadi khas kita. Otentik."
Donna mengajukan contoh, "Banyak cerita yang mengeksploitasi jeleknya hubungan keluarga. Karena itu, saya malah melakukan sebaliknya. Dalam Quarter Life Fear, Saya membuat hubungan antara tokoh utama dengan orangtuanya sangat dekat. Bahkan saking dekatnya, tak jarang sang tokoh utama merasa sesak sendiri saat butuh privasi. Dan di situlah muncul konflik." Banyak pembaca yang menyukai tokoh Mama Belinda ini, menurut Donna. "Sampai pada ngirim e-mail, bilang pengin punya ibu seperti itu," gelak Donna. "Dan ada juga yang berkomentar, 'Wah, ini kayak Mama gue banget!'"
Isman menyodorkan contoh lain dari buku nonfiksinya, Bertanya atau Mati, "Pernah memerhatikan kebiasaan orang untuk bilang, 'Kapan nyusul'?" tanyanya. Saat orang lain wisuda: Kapan nyusul? Saat ada yang menikah: Kapan nyusul? Saat ada teman yang melahirkan: Kapan nyusul? "Saya coba menawarkan pandangan yang berbeda: kenapa buru-buru sih?" ujar Isman. "Gimana kalau saya ngunjungin rumah duka? Apa nanti saya ditodong juga: Kapan nyusul? Dengan penggambaran itu, saya menyampaikan pendapat bahwa hidup itu bukan perlombaan. Nyante aja. Masing-masing ada waktunya sendiri."
Jadilah otentik. Cari pendekatan yang segar, bukan ide baru. Dan temukanlah pendekatan itu dengan terus berkarya.
Langganan:
Postingan (Atom)