Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2009

Proses Menerbitkan BaM

Dalam merintis kerjasama penerbitan buku pertama saya, Bertanya atau Mati (BaM), dengan Gramedia Pustaka Utama (GPU), saya melakukan langkah-langkah berikut:
  1. Bikin Preliminaries Naskah, yaitu:
    • Judul
    • Daftar Isi
    • Ucapan terima kasih
    • Prakata
    • Bab I naskah
    • Daftar pustaka
    • Perihal Penulis
    • (tambahan) Latar belakang dan trend pasar buku humor
    • (tambahan) Perkiraan target pembaca yang akan tertarik membeli buku ini
    • (tambahan) Ajuan strategi pemasaran untuk buku ini

  2. Cetak semua dan masukkan folder.
  3. Saya tidak mencetak semua naskah. Penerbit dapat menentukan tertarik atau tidak dari preliminaries saja. Karena itu, ada saja penulis (biasanya yang sudah langganan bestseller) yang bukunya belum beres pun sudah bisa menjalin kerjasama.

  4. Menghubungi Penerbit (dalam Kasus Ini GPU Bagian Nonfiksi)
  5. Saya memberitahu bahwa saya memiliki naskah untuk kerjasama penerbitan buku. Mengapa saya bilang "kerjasama"? Karena memang penulis dan penerbit adalah rekanan. Tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Keduanya saling membutuhkan. Dan untuk kerjasama tentunya membutuhkan kecocokan dari kedua pihak, bukan hanya dari satu sisi.

    Saat itu saya diminta untuk mengirim naskahnya.

    Saya meminta untuk bertemu muka. BaM adalah suatu konsep yang tidak umum di Indonesia. Saat saya mendiskusikan ide buku ini dengan seorang teman saja pernah terjadi dialog seperti berikut:
    Teman: "Jadi buku kamu nanti tentang apa?"
    Saya: "Kumpulan esai humor."
    Teman: "Oh. Seperti apa, tuh?"
    Saya: "Seperti buku Seinfeld, Dave Barry, Bill Cosby--"
    Teman: "Bill Cosby nulis buku?"
    Saya: "Euh, ya."
    Teman: "Buku kaya apa?"
    Saya: "Ah, kumpulan esai humor."
    Teman: "Seperti apa, tuh?"
    Karena itu, walaupun telah menyusun profil pemasaran buku, saya merasa perlu untuk menjelaskan buku tersebut secara empat mata.

  6. Bertemu dan Berdiskusi dengan Editor.
  7. Saya berkenalan dengan Pak Dwi, salah satu editor nonfiksi. Setelah diskusi yang hangat (karena AC-nya kebetulan sedang mati), kami meraih semacam pengertian bersama (belum persetujuan, karena preliminaries-nya masih perlu ditilik).

  8. Ajuan Kerjasama Saya Disambut Baik oleh GPU
  9. Sudah lebih dari satu bulan lewat, karena perlu ada riset langsung oleh marketer GPU ke toko-toko mengenai potensi pasar buku seperti ini. Saat diberitahu mengenai hal ini, yang terbayang di benak saya adalah;
    Marketer: "Bang, kalau ada buku judulnya 'Bertanya atau Mati', mau beli kagak?"
    Pemilik Toko: "Politik?"
    Marketer: "Humor."
    Pemilik Toko: "Hahahaha becanda, lu!"
    Marketer: "(nelepon GPU) Kayanya bakal laris, nih."
  10. Penandatangan Perjanjian Kerjasama
  11. Yang terutama saya perhatikan dalam surat perjanjian tersebut adalah:

    • Poin bahwa Hak Cipta karya tetap di tangan pengarang. Penerbit hanya memiliki hak untuk menerbitkan dan menjual karya tersebut.

    • Jumlah cetakan awal

    • Jumlah royalti untuk pengarang

    • Metode pembayaran royalti dari penerbit kepada pengarang

    • Batas waktu hak penerbitan oleh mitra saya

    • Klausul bahwa hak penerbitan dapat dialihkan pada pihak lain jika pengarang merasa bahwa karyanya kurang diperhatikan rekan penerbit
  12. Saya Menyerahkan Naskah (Softcopy dan Hardcopy) ke GPU

  13. Proses Penyuntingan Naskah bersama Editor
  14. Di sini saya bekerja sama dengan Rina, yang banyak memberi masukan sehingga bahasa dalam BaM terasa lebih alami.

  15. Saya Memilih Untuk Mengusahakan Desain Sampul Sendiri
  16. Sebenarnya bisa saja urusan cover diserahkan pada penerbit. Tapi saya pilih meminta bantuan teman saya, Poetoe, untuk mendesain. Alasan utama adalah karena komunikasi lebih enak. ("Yang bener aja, Poet! Masa muka gua terlihat ganteng di sini?" "Ya udah, aku jadiin gigi kamu ompong, kan beres.")

  17. Proses Memilih Perwajahan Dalam dengan Layout Editor

  18. GPU Menyerahkan Proof Naskah untuk Diperiksa

  19. Revisi

  20. Naik Cetak
  21. Tanpa disadari, sudah setahun berlalu semenjak menawarkan naskah. Saat pertama kali bertemu Pak Dwi, saya sedang cuti bulan madu (kapan lagi bulan madu ke penerbit?). Saat pemberitahuan buku akan dicetak, tepat pada hari anak saya, Riordan Azad Zen, lahir.
Oke, itu pengalaman saya pribadi. Jadi dalam kasus berbeda, misalnya menerbitkan fiksi, akan ada langkah yang berbeda pula. Tapi intinya selalu sama: penerbitan buku adalah suatu kerjasama. Semoga bisa menginspirasi Anda untuk berkarya.

Ide Tidak Akan Berharga, Tanpa Diwujudkan

Dalam berbagai acara dan kesempatan, banyak sekali hadirin yang berkata, "Saya ingin menulis cerita, tapi idenya masih belum terlalu bagus. Jadi saya cari-cari dulu." Ini adalah pola pikir yang merugikan diri sendiri. Karena dalam penulisan kreatif, ide memang tampak sangat berharga. Tapi hanya kalau sudah diwujudkan.

Sebagai contoh, Donna mendapatkan banyak surat pembaca yang berkata bahwa mereka juga pernah memikirkan ide yang serupa dengan salah satu novel Donna. Terlepas dari benar atau tidak, ada satu perbedaan yang jelas: Donna benar-benar mewujudkan ide itu. Ide Donna menjadi jauh lebih bernilai daripada yang hanya tersimpan di benak.

Derek Sivers, presiden dan pemrogram CD Baby dan HostBaby berkata, "Menurut saya, ide tidak ada harganya kalau tidak direalisasikan. Ide itu sekadar pengali. Realisasilah yang bernilai jutaan."

Hal ini juga berlaku untuk penulisan kreatif. Dengan mengadaptasi contoh Derek mengenai bisnis, nilai suatu karya ditentukan dari pengalian antara dua hal:

1. Ide (cerita):
  • Ide superjelek = 0
  • Ide buruk = 1
  • Ide standar = 25
  • Ide bagus = 100
  • Ide luar biasa = 200

2. Penulisan (dan penceritaan):
  • Tidak dituliskan = Rp100
  • Penulisan buruk = Rp1.000
  • Penulisan standar = Rp100.000
  • Penulisan bagus = Rp1.000.000
  • Penulisan luar biasa = Rp10.000.000

Ide paling hebat, jika tidak dituliskan, hanya bernilai Rp20.000. Bahkan ide standar pun jika ditulis dengan bagus akan berharga Rp25 juta. Dan itu akan lebih bernilai daripada ide luar biasa yang ditulis secara standar (Rp20 juta).

Jangan menghabiskan usaha terlalu banyak untuk mencari ide luar biasa. Cukup milikilah inti pesan yang kuat. Paling jelek, ide kita akan standar.

Apa salahnya? Novel seperti Harry Potter dan Stardust tidak benar-benar memunculkan ide yang baru. J.K. Rowling meramu berbagai mitologi dan hikayat ke dalam plotnya. Tidak perlu saya jelaskan lagi kesuksesan seri ini dalam memikat para pembaca setianya. Lalu, konsep perjalanan bersama dua tokoh asing sehingga menjalin ikatan batin yang kuat juga tidak baru. Tapi Neil Gaiman dapat mengolahnya menjadi novel fantasi yang khas.

Jadi, pusatkanlah usaha kita pada menghasilkan penulisan yang sebaik mungkin, khas kita sendiri. Dengan kata lain: otentik.

Kuis Singkat: Apakah Anda Seorang Penulis?

1. Apakah Anda bisa baca-tulis?
a. Ya.
b. Tidak, walaupun dengan mengaku begitu, berarti saya berbohong.


2. Apakah Anda senang menulis?
a. Ya.
b. Jawabannya bisa diucapkan aja, nggak? Saya males ngetik.


3. Apakah teks yang sesuai untuk gambar di bawah?


a. Where a writer's heart is
b. Lah, kan saya nggak bisa baca-tulis, gimana sih?


Kunci jawaban

  • Semua a: Ya.

  • Ada satu atau dua b: Mungkin.

  • Semua b: Kemungkinan besar penulis humor.


Lho? Gitu aja?

Memangnya apa lagi? Harus menerbitkan buku? Harus hapal Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Peter and the Starcatchers

Saya akui, saya mencari-cari buku ini dari tahun lalu hanya karena satu hal: salah satu pengarangnya adalah Dave Barry, penulis humor favorit saya.

Namun saat mendapatkan buku itu, alasan saya bertambah. Saya ingin mengetahui karya seperti apa jadinya jika seorang penulis humor berkolaborasi dengan penulis misteri (Ridley Pearson).

Membaca buku ini bagi saya mungkin seperti berlibur ke Pangandaran. Tidak jarang saya mengernyit melihat hal-hal yang bisa merusak pengalaman saya. Namun, berhubung saya mengkukuhkan diri untuk bersenang-senang, saya pun berjuang untuk mengabaikan semua yang mengganggu. Saya fokus ke hal-hal yang menghibur saja. Alhasil, begitu berakhir, saya pun pulang dengan perasaan puas.

Sebenarnya tentang apa buku ini?

Ini adalah prekuel novel Peter Pan and Wendy (oleh J.M. Barrie) versi mereka. Ide ini muncul saat Dave mendongeng kepada anaknya. Lantas sang anak bertanya, "Kenapa Peter bisa tinggal di Neverland?" Sebagai penulis humor, tentu saja dia berpengalaman dalam mengarang cerita di tempat. Namun, saat ia dengan asal menjelaskan dari mana Peter dan kenapa ia bisa terbang, ia tiba-tiba tertegun melihat ekspresi anaknya. Itu adalah ekspresi anak yang tercengang. Tak sabar menunggu lanjutannya. (Atau ingin ke toilet.)

Apa pun itu, ia akhirnya menceritakan idenya bersama Ridley Pearson, dan mereka pun memutuskan untuk menyusun bukunya. Cara mereka berkolaborasi pun cukup sederhana: masing-masing melempar satu bab, lewat email. Hasilnya, ada satu bab yang begitu panjang. Dan ada yang hanya beberapa halaman.

Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik. Walaupun bagi saya, yang lebih menarik adalah gagasannya. Membuat prekuel dari sebuah kisah legendaris. Ini adalah ide yang muncul hanya pada orang-orang yang mau bertanya. Kenapa begini? Kenapa begitu?

Ironisnya, yang memunculkan ide itu adalah seorang anak.

Buku ini mengingatkan saya untuk kembali mempertanyakan berbagai hal. Terutama sebagai penulis. Jika kita begitu mudah untuk terbuai atau terkagumkan oleh karya-karya penulis lain. Bisa jadi, kita merasa bahwa semua hal sudah ditulis orang lain. Semua ide sudah diwujudkan. Tiada hal baru lagi di bawah sinar mentari. Apa lagi yang bisa kita tulis?

Itu adalah contoh pertanyaan yang salah. Jika kita mulai terjebak dalam situasi seperti itu, cobalah kembali jadi anak kecil. Apresiasilah karya. Atau malah peristiwa di sekitar kita. Lantas tanyakanlah.

"Wah, ceritanya asyik! Terus, kenapa tokoh utamanya bisa begitu? Eh, gimana kalau begini? Atau sekalian aja begitu?"

Atau

"Haha, kejadian tadi lucu juga. Gimana kalau ternyata yang datang buaya?"

Bisa jadi, itulah yang akan membuat kita jadi kembali bersemangat meneruskan karya kita. Atau memompa ide segar ke dalam benak kita yang mengempis.

Selamat bertanya dan menulis!

______________________

Poetry Slam!: Adu Berpuisi

Poetry slam atau adu puisi adalah sebutan untuk kompetisi pembacaan puisi. Siapa pun bebas mendaftar dan tampil di panggung untuk membacakan karya mereka. Penampilan tiap peserta kemudian akan dinilai. Umumnya peserta harus membaca karya sendiri. Namun ada juga yang tidak.

Adu puisi sangat populer di Amerika. Pertama kali dikenalkan oleh Marc Smith pada tahun 1984 di Chicago, kini bahkan ada kompetisi National Poetry Slam yang diikuti hingga 75 tim dan diselenggarakan berhari-hari. Populernya kontes berpuisi ini juga yang memicu kemunculan pementas syair (performance poet), para penyair yang memunculkan kekuatan kata melalui dengan mementaskannya. Termasuk di antaranya penyair hip-hop. Penyelenggaraan poetry slam sudah meluas hingga negara-negara Eropa. Di Asia-Pasifik, Singapura dan Australia termasuk yang sudah sering menyelenggarakan ajang serupa.

Di Indonesia, adu puisi masih jarang kita temui. Karena itu, "Better Read than Dead" Poetry Slam di Bebek Bengil adalah satu acara Ubud Writers and Readers Festival 2007 yang saya tunggu-tunggu.


Suasana Apresiatif
Hal Judge menjadi MC acara dan membawakannya sesantai DJ stasiun radio. Untuk mencairkan suasana penonton yang beragam (warga asing dan Indonesia), misalnya, ia menceritakan berbagai kecelakaan berbahasa yang ia catat selama di Indonesia. Sebagai contoh, di Ubud ia pernah disapa seorang warga lokal, "Hai, Haley. Mau ke mana?"

Berhubung Hal baru mempelajari idiom baru, ia lantas menggunakannya, "Makan angin." Sayang sekali, ia masih mengucapkannya dengan lidah bahasa ibunya, sehingga terdengar menjadi, "Makan anjin'."

Ia juga menyampaikan format dan aturan adu berpuisi malam itu:

  1. Puisi yang dibacakan harus karya sendiri

  2. Tim juri terdiri dari tiga orang yang ia tunjuk sebelumnya

  3. Tiga hal yang dinilai adalah: isi, penyampaian, dan penjalinan emosi dengan hadirin--yang akan dilihat dari riuhnya tepuk tangan.


Selagi menunggu peserta bertambah, ia mempersilakan dua orang penyair tamu untuk mulai.


Yang pertama adalah Miriam Barr dari Auckland. Seorang pementas syair berpengalaman, ia telah menjuarai berbagai ajang adu berpuisi, termasuk Poetry Idol. Pada penampilannya di Bebek Bengil, ia menunjukkan kekuatan visualnya dalam syair.


Berikutnya adalah Miles Merrill, yang disebut media massa sebagai "seorang pementas kata yang menakjubkan". Dan ia membuktikannya hanya dalam beberapa detik setelah memegang mikrofon. Melalui sketsa pembuka "I care for people", ia menunjukkan kisar dan bentuk vokal yang bervariasi. Plus humor yang menggelitik. Sebagai seorang kelahiran Chicago yang telah menjadi warga Australia semenjak sepuluh tahun lalu, ia mengajak hadirin menertawakan stereotipe dialek Australia yang sulit dimengerti.

Barulah kemudian ia masuk ke puisi sebenarnya. Ia membawakan dua karya. Salah satunya adalah puisi yang ia tulis ketika sedang berkemah di Australia. Angin topan meniup dan menggulingkan tenda, beserta dirinya yang masih di dalam. Miles mementaskan puisi tersebut seperti sebuah dongeng, menyeret hadirin ke dalam dunianya. Kadang ia menjadi angin. Menjadi tenda. Menjadi daun. Atau dirinya yang berteriak, "Stop pounding at my weak shelteeeeer!"

Tanpa sadar, kita menjadi telinga, hidung, dan mata Miles. Saat semuanya beralih sunyi. Dan ia menengadah, menyaksikan, "Half the sky is stars. Half the sky is stars."

Atap saung Bebek Bengil seperti mau roboh oleh tepukan tangan. Hal kemudian mengundang peserta pertama untuk maju. Dan inilah yang menakjubkan. Walaupun kesan penampilan Miles sangat dalam, ini tidak memengaruhi standar hadirin. Penonton tetap mengapresiasi dengan tulus pementasan tiap peserta.

Bahkan penampilan hancur seperti seorang peserta dari Rembang, yang mengaku bernama Gato Loco, tetap diberi applause. Seberapa hancur? Ia datang dengan menggunakan kacamuka hitam. Menyetel suara latar belakang ala militer. Merokok dengan sembarangan (karena sebenarnya dilarang). Lantas membaca puisi dengan gaya mabuk. Di tengah pembacaan, ia membuka kaos hingga memperlihatkan diri yang mengenakan kemben. Lantas setelah pentas berakhir, ia membagikan kertas berisi syair puisinya. Masih sambil merokok.


Bahkan Hagar Peeters yang tampil serampangan dengan gaya mabuk juga tetap diapresiasi. (Mungkin gaya mabuk sedang tren.)


Menikmati Beragam Suara
Yang menarik dalam sebuah slam adalah variasi "suara" para penyair. Ada yang membacakan puisi dalam nyanyian. Ada yang menampilkan emosi, cerita, atau karakter. Bisa berdasarkan pengalaman nyata maupun sama sekali rekaan.


Seorang peserta dari Malaysia yang membawakan puisi dengan nyanyian.


Abe Soares dari Timor Leste bahkan menggunakan gitar sebagai alat bantu.


Bisa tampil sendirian atau barengan. Debra Yatim, sebagai contoh membawakan puisi tentang Aceh yang dimuat dalam Asian Literary Review. Nelden dan Zulaika mendukung sebagai penyanyi latar. Saya dan Mas Wiratmadinata juga dimintai turut serta di sini sekadar untuk melafalkan dzikir.


Penilaian Tetap Tegas
Walaupun suasananya sangat apresiatif, ini tetaplah kompetisi. Sehingga juri tetap tegas. Kadek Krishna, sebagai jubir memberikan beberapa komentar tajam. Bukan hanya peserta, komentar ini juga menyangkut penyair tamu.

Penampilan Mas Wiratmadinata dan Angelo Suarez, misalnya. Keduanya memiliki kemiripan dalam pementasan pertama: sama-sama melibatkan penonton. Angelo mementaskan "puisi tererotik sedunia dalam satu menit" dengan cara meminta para hadirin menghitung dari satu hingga enam puluh keras-keras. Selama itu, ia berlarian sekeliling saung sambil terus-menerus berteriak, "This is an erotic poem for sixty seconds if I say so!"


Angelo berteriak, memekik, dan melengking di atas meja pada pembacaan puisi keduanya.


Sementara itu, Mas Wira membagi hadirin menjadi tiga bagian. Sisi kanannya diminta meneriakkan, "Ada anjing!" Sisi kirinya, "Ada serigala!" Sementara bagian tengah, "Dalam kepalaku!" Lantas ia memberi aba-aba bagian mana yang harus berteriak. Hingga makin lama makin cepat. Mas Wira sendiri ikut berteriak semakin keras, sehingga--hebatnya--mengalahkan suara hadirin. Rangkaian ini diakhiri dengan Mas Wira meneriakkan kalimat akhir, "Mencari kata-kata."

Walaupun sambutan untuk kedua penampilan ini luar biasa, Kadek Krishna berkomentar dengan nada bercanda, "Kalian semua sudah dimanipulasi. Sehingga standar kalian jadi rendah."

Ada peserta yang mengurungkan niat membaca puisi dan akhirnya malah bercerita pengalaman diri. Ada dua peserta yang membaca puisi dari SMS. Untuk kedua hal ini, jubir juri hanya menggeleng-geleng, "Not good."

Selanjutnya, juri pun mengumumkan para pemenangnya.


Daniella, pemenang pertama, yang membawakan puisi ala rap. Muncul menjelang akhir acara, sambutan penonton pada penampilannya bahkan mengalahkan riuh tepuk tangan untuk Miles.


Pemenang lainnya meliputi Kerry Pendergrast, penyanyi dan pementas teater yang sudah enam belas tahun tinggal di Bali, saat itu membawakan puisi berwawasan dalam dan humoris mengenai Ubud, Sekala-Niskala. Dan seorang peserta dari Jakarta yang melantunkan puisi dengan gaya vokal mirip Beyonce. Nilai kedua peserta ini seri, sehingga mereka harus mengulang kembali penampilan. Hasil akhir ditentukan dari tepuk tangan hadirin.

Dan acara ini pun berakhir. Ironisnya, Hal Judge, sang pengumpul insiden berbahasa, justru kecelakaan saat menutup acara. Ketika berterima kasih pada pihak restoran Bebek Bengil, ia mengucapkannya sebagai "Bebek Bangle". Setidaknya ia jadi punya bahan untuk adu puisi tahun depan.


Mempopulerkan Adu Puisi Di Indonesia
Berat rasanya meninggalkan acara tersebut. Suasana kreatif dan apresiatif di dalamnya begitu memabukkan. Hanya dengan menghadiri acara tersebut, saya jadi ingin menguntai kata dan mementaskan cerita. Padahal saya bukan penyair. Seperti yang saya tulis dalam prakata Bertanya atau Mati, usaha saya membuat puisi bisa membuat seekor tikus yang terjebak perangkap terdengar seperti Shakespeare.

Namun itulah intinya: acara ini membuat orang-orang jadi berani dan bersemangat untuk menulis maupun menikmati puisi. Dan ini jauh lebih penting daripada mendiskusikan teori-teori kesusasteraan.

Bayangkan acara-acara seperti ini marak dalam kegiatan sekolah seperti pensi, misalnya. Atau menjadi alternatif kegiatan di kampus, alih-alih pentas musik ingar-bingar yang selalu menyetel 40 lagu terpopuler saat itu.
Bayangkan puisi menjadi bagian dari kehidupan normal, sehingga seseorang dapat berkata kepada temannya, "Eh, pernah dengar puisi ini nggak?" Dan temannya benar-benar mendengarkan. Bukan malah menertawakan.

Mengapa tidak?

UWRF 2007: Berbincang dengan Kiran Desai

Setelah menghilang beberapa tahun, Kiran Desai muncul kembali dengan novel keduanya, Inheritance of Loss, yang langsung memenangkan Man Booker Prize. Kiran menjadi wanita termuda yang memenangkan salah satu penghargaan sastra yang paling bergengsi di dunia ini.

Setelah memperkenalkan Kiran, sang moderator, Nury Vitacchi langsung menodong, "Ayo mengaku saja, ibumu (Anita Desai) yang menulisnya, kan?"

Setelah tawanya mereda, Kiran menjelaskan bahwa ia pun baru menyadari setelah besar bahwa saat di New Delhi, ia tinggal di dekat dua penulis India legendaris. Salah satu di antara mereka bahkan merupakan teman masa kecil ibunya.

"Apakah itu yang mendorong kamu bercita-cita jadi penulis dari kecil?" tanya Nury.

"Tidak. Saya ingin jadi ilmuwan," jawab Kiran. Tapi kemudian ia menyadari bahwa bukan itu yang ia inginkan. Apalagi setelah mempelajari hal-hal seperti kanibalisme jangkrik, walaupun itu adalah salah satu hal yang akhirnya ia gunakan dalam novelnya. Ia mulai menulis setelah mengikuti sebuah lokakarya penulisan. Naskah pertamanya berjudul Twilight and the Office Manuals. Nury langsung berkomentar bahwa pemilihan judulnya sudah jauh lebih membaik sekarang.

Dalam Inheritance of Loss, ada deskripsi memikat mengenai sebuah rumah di tengah hutan. "Bagaimana cara kamu menulis adegan itu?" tanya Nury. "Apakah kamu harus pergi ke satu tempat khusus untuk menulisnya?"

Kiran menggeleng dan berkata bahwa dia menulis di mana saja. "Tapi tidak (termasuk) New York," tambahnya sambil tersenyum. Menurutnya memang ironis bahwa dia harus meninggalkan kota tempat tinggalnya demi menulis.

Nury menanyakan keadaan finansial Kiran. "Apakah kamu ada mata pencaharian lain (di luar menulis)?"

"Tidak," ujar Kiran. Sumber dananya hanya dari royalti novel pertamanya, Hullabaloo in the Guava Orchard, yang sempat memenangkan penghargaan sastra. Dan itu pun terbatas. Sehingga walaupun ia masih bisa makan, ia mengalami kesulitan untuk membayar berbagai tagihan. Kiran bergurau bahwa ia sampai sempat merenungkan nasihat (orang-orang tua India) untuk menikahi seorang pria pebisnis kaya. Namun, ia menyadari bahwa ia sudah melewatkan kesempatan itu pada usianya sekarang (36 tahun pada tanggal 3 September lalu).

"Apakah itu sebabnya kamu menghilang setelah novel pertamamu pada tahun 1998?" tanya Nury. Kiran baru muncul kembali pada tahun 2006 dengan novel keduanya ini.

Kiran mulai menjelaskan, bahwa pertama-tama, draf pertama naskahnya mencapai 1500 halaman. Pada akhirnya, ia berhasil menyunting naskah tersebut menjadi 500 halaman. Tapi bahkan setelah itu selesai, semua penerbit di Inggris menolak menerbitkannya. Semua editor yang ia temui takut menyentuh naskah tersebut. "Jadi siapa lagi yang bisa menyuntingnya?" ujar Kiran. Ia kemudian terpaksa mencari editor lepas. Bahkan editor itu pun menyuarakan pendapat serupa, "[Cerita] ini tidak akan laku." Seorang editor dari The New Yorker bahkan berkata, "Ini adalah buku terburuk yang pernah kubaca."

Setelah memenangkan penghargaan Man Booker Prize, Kiran sempat bertemu dengan editor itu lagi. Dan sang editor berkomentar bahwa, "yang sekarang jauh berbeda dari yang kubaca dulu."

"Sama sekali tidak," ujar Kiran kepada para hadirin. "Ini buku yang sama."

Ayah Kiran juga memberikan komentar, walau hanya menyangkut judul, "Kenapa judulnya begitu? Kenapa kamu tidak menamainya The Loss of Inheritance saja?" Di tengah tawa, Kiran menambahkan, "Dan ia mengira bahwa semua orang akan lebih mudah menangkap [judul itu]."

Kiran mengamati bahwa sebagian besar cerita fiksi sekarang terlihat begitu sempurna. Tertulis sempurna dan terbaca sempurna. Dia mencontohkan cerita-cerita di The New Yorker yang begitu sempurna sehingga "terasa seperti periklanan." Cerita-cerita tersebut bagaikan ditulis untuk orang-orang yang sempurna. "Padahal, kita sama sekali bukan."

Pada sesi tanya jawab, seseorang bertanya bagaimana Kiran menulis novelnya. Apakah ia membuat kerangka terlebih dahulu?

Kiran menggeleng, "Saya tidak memiliki disiplin sama sekali dalam menulis." Ia menjelaskan bahwa ia hanya menuliskan semuanya. Dan kemudian meng-"cut and paste" bagian-bagian hingga terasa benar. Ia menstrukturkan tulisannya berdasarkan emosi yang ingin ia curahkan.

"Apakah Anda menulis novel dengan mengira-ngira seperti apa emosi seseorang ketika membacanya?" tanya seorang lagi. "Tidak," jawab Kiran. "Saya tidak bisa mengukur apa yang akan seseorang rasakan saat membaca karya saya." Menurutnya, dua orang bisa saja mengalami perasaan yang berbeda ketika membaca novel yang sama.

Ketika ditanya apakah kesuksesan dramatis buku keduanya, setelah ditolak oleh begitu banyak penerbit, membuatnya menjadi lebih percaya diri dalam menulis, Kiran menjawab, "Penulisan [kreatif] timbul dari keraguan."

Kiran juga berkomentar bagaimana ia menikmati sambutan Indonesia yang jauh lebih ramah daripada negara-negara Eropa yang pernah ia kunjungi. Imigrasi di benua Eropa cenderung memandangnya dengan penuh curiga. Nury mengakhiri dengan cerita tentang seorang penulis India pernah dipersulit di bagian imigrasi sebuah negara Eropa.

Alasannya? Karena pihak imigrasi mengira penulis tersebut ingin menyelundup masuk untuk menjadi pencuci piring di restoran kari India.

Teater Teks Improv: Ikuti Saja Aliran Cerita

Dalam tulisan mengenai mitos Writer's Block, saya pernah menyampaikan Teater Teks Improv sebagai permainan untuk melawan kebosanan menulis. Namun, seperti apakah praktik jelasnya?

Sederhana saja. Kumpulkan sejumlah penulis dalam satu text conference. Beri mereka satu kata atau frase kunci. Kemudian, mereka harus bergantian mementaskan cerita bersama-sama dalam bentuk tulisan. Tanpa diskusi cerita. Tanpa kesepakatan karakter. Dalam waktu sepuluh hingga lima belas menit.

Apa yang akan terjadi? Teater Teks Improv (TTI)! Terinspirasi oleh Teater Improv seperti Mother, TTI adalah wadah menyenangkan bagi para penulis yang ingin bersenang-senang dan tertawa bersama sambil menjalin cerita.

Dalam TTI, kita belajar untuk melepas kritik-diri yang terlalu mengungkung. Tidak apa-apa berbuat kesalahan dalam TTI karena yang penting "the show must go on", semua peserta akan saling mendukung agar pementasan terus berlanjut hingga selesai.

Sebagai contoh, dalam sebuah sesi TTI, ada salah tangkap antara penulis. Isman yang berperan sebagai Turis #1 menulis "dekat sumur". Dan Johan yang berperan sebagai Turis #2 salah baca, mengiranya "dalam sumur."

Apakah itu akan menghancurkan pentas? Sama sekali tidak. Silakan baca sendiri hasil transkripsinya di bawah. Dalam cerita ini, Alex memerankan Narator. Sementara Andi, sebagai penonton melontarkan frase kunci: Koin keberuntungan.


Narator:
Dua orang turis mendekati sebuah sumur keramat di daerah Wates. Mari kita dengarkan percakapan mereka.

Turis #1 melihat ada koin tergeletak di dekat sumur, dan langsung menginjaknya. Ia lantas bersiul-siul, sambil celinguk kanan-kiri.

Turis #2:
Mas, ngapain dalam sumur?

Turis #1:
(Kaget) Euh...
Olahraga! Saya dari Vanderstanikctan. Lompat ke dalam sumur adalah olahraga nasional kami.

Turis #2:
Oh... berapa kalori yang terbuang mas? Saya lagi dalam program diet.

Turis #1:
Tergantung berapa dalam sumurnya. Kalau lebih dari 100 meter, Anda tidak perlu khawatir akan masalah berat badan lagi.

Turis #2:
Wah benar, nih?
(Naik ke atas sumur.)
Duh, jadi lupa tadi mau ngapain.

Turis #1:
Mengangkat saya dari dalam sumur dulu ke luar sebelum mencoba sendiri?

Turis #2:
Tadi pas lompat gak mikirin cara keluarnya, yah?
(Mengulurkan tangannya.)
Mas... lihat koin saya, gak?

Turis #1:
Sebentar, itu apa, ya?
(Menunjuk ke angkasa.)

Turis #2:
Yang mana, Mas?
(Melihat ke angkasa.)
Pesawat?

Saat penolongnya menoleh, Turis #1 mengambil koin dan mengantunginya.

Turis #2 tidak menemukan apa-apa dan mengangkat bahu. Ia kembali mengulurkan tangannya, yang diterima Turis #1 dengan senang hati.

Saat Turis #2 berusaha menarik lawan bicaranya keluar sumur, ia terpeleset dan nyemplung juga, menimpa tubuh Turis #1 dengan keras.

Turis #1:
(Mengerang)
Oke, untunglah saya tidak perlu memerankan ini di dunia nyata.

Turis #2:
Mas, maaf Mas, ini bukti koin saya kalo hilang. Jadi sial terus... Gak papa, Mas?

Turis #1:
(Meringis) Nggak apa-apa.
Ngomong-ngomong, koinnya seperti apa, ya? Apa perak dengan lapis emas di pinggirnya?

Turis #2:
Sepertinya sih gitu, ada tulisan Cinanya gak, Mas?

Turis #1:
Kanji Cina yang berarti Keberuntungan bukan?

Turis #2:
Iya, yang itu!

Turis #1:
Kalau gitu seh, nggak pernah lihat.

Narator:
Hari pun semakin gelap seraya kedua orang itu menunggu di dalam sumur. Mereka sadar bahwa mereka harus keluar dari sumur itu secepatnya, tapi bagaimana?

Turis #2:
Duh, jangan-jangan masih di sini, bantuin cari dulu yah Mas, dah mulai gelap nih.

Turis #1:
Boleh! Tapi berhubung mulai gelap, bagaimana jika aku naik ke punggungmu, ke luar sumur dulu, terus cariin senter buat kita. Jadi bisa nyari semalaman, kan?

Turis #2:
Wah pinter idenya, boleh boleh...
(Membungkuk)
Mas, tengkyu yah, baek banget mau bantuin saya.

Turis #1:
Sama-sama!

Turis #1 menaiki punggung lawan bicaranya, meraih pinggir sumur dan naik. Setelah sampai di atas ia menoleh ke dalam.

Turis #1 (Cont'd):
Aku cari dulu senternya, ya? (Tersenyum sinis)
Eh, ngomong-ngomong, apa yang terjadi kalau koin keberuntunganmu di tangan orang lain?

Turis #2 tidak menjawab karena terlalu sibuk mencari-cari di dasar sumur.

Turis #1:
(Mengangkat bahu) Ya, apa pun, lah.
Semoga beruntung mencarinya!

Turis #1 melangkah pergi. Menyeringai lebar, ia melempar koin ke atas... dan tertabrak mobil.

Koin yang terlempar jatuh kembali ke sumur, tepat di hadapan Turis #2.

Turis #2:
Waah, untung aja koin saya ketemu, Mas! Kalau kepegang orang lain, kasihan orangnya. Bisa bawa sial.
(Mencoba mendengarkan jawaban yang tidak datang.)
Mas?

Buaya Merah Muda

Dalam game Persona 3, seorang pria pengidap kanker stadium akhir bertanya kepada kita, sebagai tokoh utama, "Apa pendapatmu tentang seekor buaya berwarna merah muda?"

Lantas kita perlu memilih salah satu jawaban:

  1. Keren!

  2. Nggak ada buaya berwarna merah muda.

  3. Aku nggak peduli.


Dalam dua detik pertama, jawaban apa yang otomatis Anda pilih? Simpan dulu dalam ingatan.

Lanjut pada cerita, sang pria kemudian menjelaskan, bahwa ia menganggap ide buaya merah muda itu menarik. Ia ingin menulis cerita dengan buaya tersebut sebagai tokoh utamanya. Akibat warna kulit yang mencolok, buaya tersebut tidak bisa berburu. Semua buruan langsung kabur saat ia mendekat. Kalangan buaya pun mengucilkannya. Warna kulit yang aneh membuat buaya lain merasa ngeri. Semua menjauh, takut tertular. Buaya ini pun kelaparan dan kesepian.

Ya, buaya ini adalah simbol diri sang pria yang mengalami hal serupa. Ide unik ini mampir dalam pola pikir seseorang yang menderita penyakit tak tersembuhkan. Tapi, bisa pula mampir dalam benak seseorang yang mencoba menempatkan diri dalam posisi orang lain. Dengan kata lain, orang yang tidak hanya terpaku pada pola pikir sendiri.

Pilihan jawaban di atas mencerminkan kesiapan kita menerima hal-hal yang berbeda.
Apakah kita hanya tersita oleh apa yang kita lihat atau rasakan? Dapatkah kita menerima hal-hal tak lazim sebagai kemungkinan?

Menurut Anda, seseorang yang mudah menemukan dan menangkap ide akan memilih jawaban yang mana? Ingat-ingatlah itu.