Tampilkan postingan dengan label ngobrol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngobrol. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2009

Tiga Poin Penulisan Fiksi yang Dilihat Editor

Hetih Rusli, editor fiksi GPU, berbagi seperti apa "Naskah Novel yang Saya Sukai" dalam blog Virus Baca.

Dia mengemukakan tiga poin penting:
  1. Penokohan
    Tokoh harus benar-benar hidup, bukan hanya tertuang di atas kertas. Dan--ini bagian yang saya suka--"tolong deh, nggak perlu menyebutkan semua karakteristik tokoh lengkap dengan sifat-sifatnya pada halaman 2, paragraf pertama sehabis si tokoh datang terlambat ke sekolah."


  2. Alur cerita
    Alur cerita harus memiliki tujuan. Bukan karena ingin pamer pengetahuan atau alasan yang lebih kacau: "Because I like it."


  3. Tema cerita
    Dia juga menyampaikan apa yang sering saya dan Donna sampaikan dalam lokakarya menulis: jadilah otentik, bukan orisinal.

Pendekatan untuk Penilikan Naskah

Berhubung sejumlah pertanyaan sama kerap bermunculan berkaitan penerbitan, saya mendirikan pojok ini agar dapat memberikan gambaran akan jawabannya. Jangan sekadar terima begitu saja, karena penerbitan karya adalah suatu pengalaman yang bisa berbeda-beda bagi setiap orang.

Tanya (T): Aku pernah ngirim naskah ke [nama penerbit], tapi belum ada konfirmasi juga. Saya baru telepon lagi namun disuruh menunggu. Memang berapa lama prosesnya,ya? Apa sampe empat bulanan?

Jawab (J): Rata-rata, penilikan naskah itu memang tiga bulanan. Tergantung dari kesigapan tim redaksi dan jumlah naskah yang masuk, waktu penilikan ini bisa lebih singkat (ada yang hanya dua minggu) atau memanjang (ada yang sampai lima bulan baru konfirmasi).

Kuncinya di sini: proaktif. Saya selalu menekankan pada para penulis yang ingin mulai menerbitkan buku, agar saat menyampaikan naskah itu berkenalan dulu dengan salah satu editor dari redaksi bersangkutan. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan kontak yang jelas (ada nama jelas dan wajah yang kita ingat, bukan sekadar nama generik seperti Editor Fiksi).

Dengan begitu, kamu bisa selanjutnya menghubungi orang tersebut untuk mengonfirmasi status naskah setelah, sebagai contoh saja, dua minggu.


T: Aku sering menanyakan tapi selalu diminta menunggu. Bagaimana nih?

J: Setiap kali menanyakan status konfirmasi, jangan sekadar mencari jawaban "Sudah" atau "Belum" saja. Lebih penting adalah mengetahui prosesnya. Jika dikatakan belum selesai, tanyakan saja dengan sopan, perkembangannya sampai mana. Dan kalau boleh tahu, prosedur penilikannya seperti apa, agar kamu memiliki gambaran sudah sejauh mana prosesnya.

Penerbit yang kredibel akan memberitahu secara jujur dan tidak akan mencari-cari alasan.

Contoh jawaban kredibel:
  1. "Oh, proses penilikan naskah di sini perlu disetujui minimal dua editor dulu. Sejauh ini baru satu editor yang menilai ada potensi. Jadi, kalaupun ada kesepakatan, mungkin perlu revisi besar-besaran. Gimana?"

  2. "Maaf, banyak naskah yang ngantre nih. Dalam dua minggu terakhir ada sekitar 200-an yang masuk. Jadi naskah Mas belum sempet kami baca."

Contoh yang meragukan:
  1. "Ya, sama lah kayak penerbit-penerbit lain. Masa gitu aja nggak tahu?"

  2. "Naskah kamu lagi dibicarain, kok. Tunggu, lah. Sekitar dua minggu lagi pasti ada kepastian." (Catatan: kalau dua minggu lagi ngomongnya masih sama, akan semakin meragukan)

Contoh yang sangat meragukan:
  1. "Bentar. (terdengar suara teriakan di latar belakang) Wooooi! Ada yang tahu kabar naskah [nama kamu] nggak? Hah? Lu pake buat ke belakang!?"

T: Tapi tiga bulan itu kelamaan. Boleh nggak, aku kirim naskahku ke beberapa penerbit sekaligus. Kan menghemat waktu, tuh?

J: Saya sarankan tidak. Karena mengirimkan naskah yang sama ke beberapa penerbit sekaligus itu tidak etis. Bagaimana jika satu penerbit menghubungi kamu karena tertarik, tapi jawaban kamu adalah, "Wah, maaf, saya sudah menerima tawaran dari penerbit lain." Berarti editor/redaksi penerbit yang menghubungi kamu itu sudah membuang-buang waktunya untuk menilik naskah kamu. Ini pun tidak adil bagi para penulis lain yang naskahnya diantrekan setelah kamu.

Lebih baik, tentukan beberapa penerbit yang kira-kira sesuai dengan tujuan/idealisme kamu. Terus urutkan prioritasnya. Kirimkan naskah dan konfirmasikan status penilikannya secara rutin. Tariklah naskah kamu jika merasa tidak ada perkembangan pasti menuju suatu kerja sama. Dan tawarkan ke penerbit berikutnya.

Akan lebih baik lagi jika di antara menunggu konfirmasi itu, kamu sudah mulai menulis draf untuk buku berikutnya.


T: Kalau saya punya lebih dari satu naskah, gimana? Apa lebih baik ditawarkan ke penerbit sama sekaligus?

J: Kalau Anda sudah pernah bekerja sama dengan penerbit itu dan merasa cocok, silakan. Namun, jika belum, lebih baik tidak. Karena nama kamu belum dikenal di penerbit tersebut, kemungkinan naskah kamu akan tetap diantrekan. Sehingga waktu penantiannya bisa lama. Belum nanti bisa bingung untuk menanyakan status masing-masing naskah.

"Naskah yang mana?" tanya sang editor.

"Yang settingnya kerajaan, tentang cinta bertepuk sebelah tangan antara pangeran dan kodok."

"Yang kodoknya ternyata laki-laki, ya?"

"Bukan, yang kodoknya lebih suka sama angsa."

"Saya jadi pusing, nih dengernya."

"Bukan, dialog itu sih di naskah satu lagi, yang tentang kuda sama putri."

"Nggak, saya benar-benar pusing nih."

"Nah, betul. Yang ada dialog itu. Yang--lho. Halo? Halo?"

Saran saya: tawarkan saja masing-masing naskah ke penerbit berbeda.

Oleh-oleh dari Sekolah Tinggi Buddhi

Dalam acara lokakarya penulisan Flash Fiction pada tanggal 20 Juni 2006, muncul sesuatu yang menarik. Saya menunjukkan contoh flash fiction Hemingway, yang hanya terdiri dari dua kalimat:
Dijual: sepatu bayi bekas. Belum pernah dipakai.
Saya kemudian menanyakan kepada para peserta, kira-kira apa cerita
yang tersembunyi di balik dua kalimat ini.

Sekumpulan siswa-siswi SMP menjawab, "Mungkin bosan dengan sepatunya. Makanya dijual."

Seorang bapak berpendapat, "Suaminya mandul."

Seorang ibu, yang kebetulan juga salah satu editor GPU, berkata, "Sang istri keguguran."

Pada saat itu, saya kembali mendapatkan pencerahan: bahwa memang karya tulisan itu dimaknai berbeda oleh para pembaca yang berlatar belakang berbeda.

Siswa-siswi SMP mungkin lebih sering bergelut dengan kebosanan. Sang bapak mungkin memiliki beberapa teman pria yang takut akan kemandulan. Sang ibu mungkin lebih akrab dengan kesedihan para perempuan yang keguguran. Semua ini memengaruhi cara mereka membaca dan mengapresiasi tulisan kita.

Karena itu, jika kita ingin mengarah satu golongan pembaca tertentu, kita perlu menyelami latar belakang mereka. Dan sebaliknya, kita perlu mengerti, bahwa jika kita tidak mengarah satu golongan pembaca secara spesifik, terimalah bahwa karya kita akan diterima sebagai makna yang berbeda-beda. Bisa jadi bukan seperti yang kita inginkan.

Apakah Lebih Sedikit Berarti Lebih Banyak?

Pascal, sang filsuf Perancis, pernah menulis: Saya haturkan maaf karena surat ini begitu panjang; [seandainya] saya memiliki waktu lebih lama, [surat ini] akan lebih pendek.

Itu juga yang disampaikan Stephen King dalam "On Writing". Ia memberi kisaran umum bahwa setelah proses penyuntingan, naskah kita seharusnya berkurang sekitar 10%. Ia malah mengimplikasikan bahwa jika tidak, berarti penyuntingan kita buruk.

Benarkah begitu? Setidaknya dunia penerbitan Indonesia belum mengadopsi paham ini. Penyuntingan masih diarahkan kepada konsistensi karakterisasi, situasi, semantik, dan sintaks. Asalkan sesuai, silakan saja mengumbar kata.

Dunia periklanan Indonesia malah terbalik. Slogan yang sering dikumandangkan adalah "Less is more! (More chances to play the ad three times, that is. And to hell with grammars)."

Dunia sinetron? Jawabannya bisa saya rangkum dalam dua kata: Sinetron Hidayah. Kalau memang bagi mereka less is more, sinetron hidayah akan berdurasi hanya sekitar tiga detik. Mereka cukup menayangkan judul, misalnya, "Istri Doyan Chatting Kena Azab." Dan sudah, tamat. Karena semua inti cerita terangkum di situ.

Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Apakah kita lebih suka mendengar orang yang berbicara panjang lebar sebelum ke inti masalah? Atau orang yang langsung ke inti masalah?

Jawabannya: tergantung bagaimana ia berbicara. Kalau menarik, kita mau-mau saja. Kalau tidak? Selagi seseorang semangat berbicara, bisa jadi yang kita pikirkan adalah, "Lubang hidungnya gede juga, ya?"

Penulisan kreatif pun sama, khususnya masalah penyuntingan. Karena itu, menurut saya, pedoman dari Stephen King perlu dilengkapi:
  1. Bikinlah tulisan menjadi lebih singkat, atau
  2. Bikin jadi lebih menarik
Misalkan, kita ingin menyampaikan dialog superpanjang antara dua tokoh. Tanyakan tiga hal berikut:
  • Kalau dipotong, pengaruh ke cerita nggak?
  • Kalau tidak dipotong, menarik bagi pembaca nggak?
  • Selain dari "sayang kalau dipotong", apakah ada alasan lain kenapa bagian ini harus dipertahankan?
Kalau jawaban untuk ketiganya adalah "tidak", potonglah. Hargai pembaca kita.

Namun itu pendapat saya. Silakan saja berbeda.

Kata Terjahat dalam Dunia Kreativitas...

...adalah "garing". Variasinya antara lain: jayus, basi, kuno, kampungan, pasaran.

"Garing" adalah kata yang digunakan seseorang, saat malas berpikir, untuk merendahkan gagasan (lelucon, puisi, maupun cerita pun gagasan) orang lain dan meninggikan diri sendiri (karena dengan menghujat "garing", sekaligus mengklaim bahwa sang penghujat tidak garing). Alih-alih menjelaskan kenapa suatu ide tidak bekerja/lucu/autentik, kita menggunakan "garing".

Salah dua penyebab garing menjadi pilihan populer adalah waktu dan kebiasaan. Banyak orang Indonesia yang tidak siap jika diminta opini dadakan. Alhasil, yang keluar adalah opini satu kata. "Gimana acaranya?" "Keren!" "Si A gimana orangnya?" "Asik!"

Wajar saja kalau ada yang berusaha melucu dan gagal, komentar orang-orang seperti ini adalah, "Garing!" Biasa satu kata. Seperti kata pepatah, "Alah bisa[nya cuman gitu] karena biasa."

Waktu juga masalah pelik. Saat seseorang berusaha mengejek pria kurus, misalnya, dengan lelucon yang sudah diceritakan beribu-ribu kali, "Badan lu kok kayak papan cucian, sih?" Jawaban harus disampaikan sebelum lima detik. Kalau tidak, percuma. Berhubung tidak biasa, balik lagi ke "Basi!" atau "Garing ah, kreatif dikit kalau ngejek, dong."

Karena itu, sebaiknya kita membuat perjanjian baru. Dalam situasi seperti di atas, daripada menggunakan garing dan kawan-kawan, lebih baik kita bit dulu dan bertukaran nomor telepon. Nanti, saat kita sudah siap, tinggal hubungi nomor tersebut.

"Halo, bisa bicara dengan Johan?"

"Saya sendiri."

"Oke, sebentar." Terdengar suara lipatan kertas dibuka. "Kalau kau pergi ke hutan dan menebang pohon--bukan, bukan ini." Suara tangan menyibak kertas. "Nyonya, Anda terlihat cantik, tapi saya sedang mabuk--halah, bukan juga."

"Mau ngapain sih?"

"Lu kemaren menghina rambut gua?"

"Bukan. Tubuh lu yang kurus."

"Oh, salah kotret kalau gitu. Bisa gua telepon lagi nanti?"

"Silakan."

Kembali pada pembicaraan yang serius, penggunaan kata garing bertanggung jawab atas:

a) Menghalangi kita untuk berpikir dan menemukan jawaban yang lebih cerdas
Orang dalam budaya berbahasa Inggris, secara umum lebih lancar dalam menyusun dan mengucapkan opini. Ambillah contoh seperti para penyanyi rap dan atlet basketball. Mereka sering digeneralisir maupun direndahkan kemampuan intelijensinya. Namun, saat diwawancara, ucapan mereka terunut logis dan jelas. Dari ngalor ngidul sampai saling cerca (thrash talk) lancar.

Menurut saya, ini disebabkan bahasa Inggris tidak mengenal satu kata seperti "garing" yang menjadi guilotin sakti bagi lawan bicara. Kalau ucapan orang lain ngaco, kita perlu mendebat balik. Mengejek balik juga oke asalkan poin dan logikanya jelas. Dengan kata lain, semua orang dituntut untuk berpikir. Sementara dalam budaya berbahasa Indonesia, tidak usah. Cukup katakan, "Garing lu!" Beres.


b) Menghentikan proses diskusi lebih lanjut yang bisa mematangkan ide
Pernahkah Anda menyampaikan satu ide dengan berapi-api? Anda merasa yakin bahwa jika ide ini dilaksanakan seperti bayangan Anda, hasilnya pasti sukses besar. Namun, rekan Anda hanya mengerutkan kening dan berkomentar, "Garing ah. Jangan deh."

Apakah tiba-tiba Anda jadi mendapatkan pencerahan? "Oh astaga! Benar juga. Untung kamu ngomong gitu. Jadi saya tiba-tiba mendapat inspirasi baru. Kita sebaiknya melakukannya begini." Anda pun mengotret ide baru tersebut.

"Nah! Itu baru keren!" sambutnya. Dan kalian pun berjingkrak-jingkrak gembira.

Dalam dongeng saja tidak pernah terjadi.

Kenyataannya, begitu seseorang dalam kelompok memvonis garing, matilah semua energi positif. Keran-keran ide mampet. Tiap orang jadi makin takut untuk mengeluarkan pendapat. "Nanti dibilang garing lagi di depan umum. Malu dong."

Kalau Anda ingin membuat tim kreatif dalam perusahaan, coret kata garing dalam kamus bersama. Bikin SOP kalau perlu: jika ingin mengkritik ide (termasuk lelucon), harus ada alasan dan umpan balik. Kenapa ide itu buruk? Bagaimana agar bisa lebih baik? Dan barangsiapa yang mengucapkan garing harus mentraktir makan siang seluruh anggota tim. Dalam satu sesi saja, bisa jadi jatah sebulan makan siang gratis sudah tersedia.

Kunci utama: lawanlah efek sosial garing. Jika ada orang digaringi di depan publik, jangan diam saja. Dan jika Anda yang digaringi, lawan! Minta kejelasan. Minta contoh nyata kalau si penggaring (orang yang berteriak garing) itu bukan maling teriak maling. Kalau mereka masih ngotot juga, ya sudahlah.

Mereka garing sih. (Lho?)

Membuat Cerita Lebih Berbobot

Tanya:
Bagaimana cara membuat cerita kita jadi lebih berbobot?

Jawab:
Mungkin akan terdengar membosankan, tapi jawabannya adalah: menguatkan dasar-dasar penulisan kreatif.

a) Penggunaan tanda baca dan diksi
Menguasai tanda baca bukan sekadar tahu di mana menaruh titik, koma, tanda kutip dan kawan-kawan. Melainkan juga paham fungsinya. Misalnya, koma memberikan jeda. Sementara titik menyuruh kita berhenti dan menyatukan makna kalimat yang kita baca.

Pengolahan diksi juga bukan sekadar menggunakan kata-kata yang terasa indah. Atau pengulang-ulangan. Namun juga bagaimana menyampaikan cerita agar terasa mengalir. Dan terbayang jelas di benak.

Jangan sembarangan memanjangkan kalimat dengan merantai-rantai koma. Atau lupa diri membumbui kalimat dengan kata-kata indah. Karena bisa membuat pembaca kehabisan napas.

Napas? Ya, ada yang namanya napas membaca.


b) Menyamakan napas membaca (bermain tempo)
Dalam menari berpasangan, kita akan diajarkan untuk menyamakan napas dengan pasangan kita. Menulis juga sama dengan berdansa. Kita perlu menyamakan napas dengan pembaca. Kalau kita terus-menerus membawa pembaca dengan alur cepat, mereka bisa ketinggalan langkah.

Cobalah ingat saat kita asyik membaca cerita. Cerita serasa berputar di benak kita. Menari. Ketika kita harus membalik halaman untuk membaca sekali lagi, keasikan itu terganggu. Tarian di benak kita berhenti. Terpaksa mulai lagi dari berpegangan tangan dan melangkah.

Dan itu meliputi juga dua bagian berikut;

c) Menguntai paragraf
d) Menyajikan alur cerita

e) Penokohan dan interaksi antartokoh
Inilah faktor utama pengait emosi pembaca. Plot kita bisa sederhana saja: cinta antara dua orang manusia. Tapi dengan tokoh yang kuat, pembaca bisa tetap memiliki keterkaitan emosi yang hebat.

Apa hubungannya lima poin di atas dengan cerita yang lebih berbobot? Memangnya, apakah definisi berbobot bagi kamu?

1) Apakah menulis cerita yang tidak pernah dipikirkan orang sebelumnya?

2) Apakah menulis plot yang begitu kompleks agar pembaca bingung dalam memahaminya?

3) Atau apakah menulis suatu cerita yang berisikan suara khas kita, penulisnya? Sehingga karya ini menjadi otentik?

Bagi saya, cerita berbobot itu adalah yang ketiga. Cerita jenis pertama sudah tidak ada lagi di dunia. Dan jenis kedua pasti berhasil dalam tujuannya: membuat bingung.

Tapi ini sekadar pendapat saya. Bisa saja salah.

Milikilah Pesan dan Bersenang-senanglah

"Menulis memang mudah," ujar Donna pada anak-anak SMP Madania, Bogor. Puluhan pasang mata memerhatikan saat Donna melanjutkan, "Hanya kalau kamu serius melakukannya."

Kumpulan anak-anak ini baru saja menyelesaikan tugas mereka, membuat novel dalam satu bulan! Acara Writing Open Day ini adalah akhir dari rangkaian pembelajaran mereka. Pada hari ini, karya sejumlah penulis belia ini akan mendapatkan penghargaan. Para praktisi industri perbukuan pun akan ikut berbagi pengalaman. Benny Rhamdani dari Mizan mewakili penyunting. Sementara Donna dan saya mewakili penulis.

Beberapa anak tampak mengangguk. Namun ada juga yang mengeryitkan kening. "Serius nggak selalu menyeramkan, kok," lanjut saya. "Main basket juga bisa serius. Dan kita tetap senang saja melakukannya."

Kami pun mulai dari mengajak para penulis belia ini bertanya pada diri sendiri, "Mengapa kita menulis?" Cara mudahnya, ingatlah karya yang membuat kita benar-benar merasa, "Karya seperti inilah yang ingin aku tulis." Lalu pikirkan, "Kenapa?" Ingat juga karya yang berkesan panjang dalam diri kita. Boleh novel, film, atau komik. Apa persamaan antara cerita-cerita ini?

Umumnya, karya-karya tersebut memiliki pesan. Dan bukan pesan moral gamblang yang sekadar ditempel di belakang cerita seperti, "Janganlah mencuri, adik-adik. Mencuri itu tidak baik."

Justru sebaliknya. Semakin bagus karya, semakin tidak gamblang pesannya. Tapi malah tertanam dengan kuat pada diri kita. Banyak anak yang membaca Harry Potter, misalnya, terinspirasi untuk menjadi pahlawan. Banyak orang dewasa juga yang kembali merenungi hidup setelah membaca karya Mitch Albom, Five People You Meet in Heaven. Pesan ini terkandung seutuhnya dalam cerita.

Dan inilah yang membuat perbedaan antara karya yang menggugah dan karya yang biasa-biasa saja.

Meneruskan obrolan tentang karya yang menggugah, Donna menanyakan karakter apa yang para hadirin sukai dari Harry Potter? Jawabannya beragam. "Harry!" seru seorang anak lelaki yang begitu didekati malah malu. "Hermione!" tukas seorang anak perempuan dengan tegas.

"Ada yang suka Ron?" tanya saya. "Hagrid?" Walau sembunyi-sembunyi, ada yang mengangguk.

"Selain pesan, ini juga salah satu keunggulan karya yang menggugah," ucap Donna. "Pembaca mana pun akan dapat menemukan dirinya pada salah satu karakter dalam cerita."

"Bayangkan kalau kita membaca cerita seperti ini," ucap saya sembari membuka slide yang menunjukkan gambar di kanan ini. "Narasinya cantik dan bahasanya indah, seperti pemandangan ini. Tapi tidak ada penggambaran tokoh. Kira-kira berapa lama sebelum kita bosan?" Sambil melangkah ke tengah, saya melanjutkan. "Coba saja, kalau melihat foto bersama, wajah siapa yang pertama-tama kita cari?" Seorang anak lelaki berambut keras yang duduk di barisan kanan menunjuk dirinya sambil tersenyum hingga pipinya membulat.

Anak itu, yang mengenalkan diri sebagai Valdi, sudah menangkap intinya. Walaupun kita membuat cerita fantasi di antah berantah, pembaca akan selalu mencari relevansi antara dirinya dengan tokoh cerita. Karena itu, penokohan yang kuat dan membumi, serta interaksi antar karakterlah yang menjadi kunci kedekatan emosi pembaca.

Star Wars, sebagai contoh, berlatarkan dunia antah-berantah berteknologi tinggi. Namun, salah satu adegan yang paling diingat para penonton justru bukan kecanggihan teknologinya. Begitu trilogi kedua dibuat dengan bantuan pencitraan komputer, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan adegan ini. Adegan mana yang saya maksud? Tak lain ketika Luke menyadari bahwa Darth Vader adalah ayahnya.

Obrolan di Aula MPH ini terus berlanjut. Dari berbagai teknik penulisan (memulai cerita, show, don't tell, orisinal versus autentik, dan manajemen konflik) hingga tips untuk mencari ide maupun melawan kebosanan dalam menulis. Para penanya juga mendapatkan hadiah buku dan notes eksklusif Gramedia Pustaka Utama.

Menjelang akhir, sejumlah anak mulai kehilangan konsentrasi. Udara di aula sendiri semakin terasa panas. Namun, mereka kembali memerhatikan saat kami menayangkan beberapa klip video menggelitik untuk menunjukkan ilustrasi tentang pentingnya mengambil sudut pandang yang berbeda, memikat pembaca dari awal, hingga pentingnya memeriksa ulang (check and recheck) tulisan. Barisan depan pun tergelak saat saya dan Donna mengajak mereka untuk bermain-main dengan tulisan saat bosan. Misalnya, membayangkan naskah mereka dibawa ke unit gawat darurat dalam ambulan yang sirenenya berbunyi mentok-mentok-mentok-mentok-mentok-mentok.

"Apa yang terjadi?" tanya dokter.

"Naskah saya sekarat, Dok! Ceritanya mentok saat tokoh cowok bingung mau jadian apa nggak?"

"Tambahin konflik aja," ujar dokter sambil memasang infus. "Munculin orang baru yang kayaknya disukai ama si cewek."

"Saat jenuh, break aja," simpul Donna. "Atau kembalikan kesenangan kita untuk menulis."

"Ya, jangan sampai menulis jadi beban," tambah saya. "Saya contohkan basket lagi. Apa bedanya main biasa dengan pertandingan? Pertandingan bisa bikin kita jadi terbebani. Tapi main basketnya tidak jera, kan? Karena kita suka. Menulis juga gitu. Untuk mengatasi kejenuhan, cobalah menulis dengan tujuan bersenang-senang."

"Dengan begitu," tutup Donna. "Menulis menjadi mudah."

Jangan Jadi Orisinal, Jadilah Otentik

Masih dalam acara Ngobrol Seru (tapi Santai), Luna menyampaikan bahwa ada dua macam penulis. Pertama, adalah yang hanya mau menulis ide-ide hebat. Sebelum ia merasa suatu ide itu benar-benar unik ia tidak akan mau menuliskannya. Begitu terbit, karyanya bisa jadi fenomenal dan menginspirasi banyak orang. Namun, butuh waktu lama sebelum ia kembali berkarya. Bisa jadi sampai sepuluh tahun sekali.

Yang kedua menulis begitu memiliki suatu ide yang cocok. Karena itu, begitu terbit, karyanya tidak sefenomenal tipe pertama. Namun, ia produktif. Dalam setahun, bisa empat buku yang ia hasilkan.

Tipe penulis seperti apakah Anda?

Donna mengajukan dirinya sebagai contoh tipe kedua. Baginya, yang penting adalah menyampaikan pesan kepada sasaran pembaca. Karena itu, ia tidak mencari ide yang fenomenal. Yang ia angkat adalah keseharian. Dan justru cerita keseharian itu yang bisa lebih mengena sasaran pembacanya (mayoritas pembaca remaja).

Isman menambahkan, bahwa kalaupun kita memilih sebagai tipe pertama, tetaplah berkarya. Minimal untuk diri sendiri. Atau kalangan terbatas. Karena dalam penulisan kreatif, ide bagus hanya muncul di antara ide-ide buruk. Dalam sepuluh ide, mungkin hanya satu yang benar-benar bagus. Tetapi, tanpa mewujudkan sembilan ide sebelumnya, ide kesepuluh yang bagus itu tidak akan muncul.

Luna menyetujui dengan mengingatkan pepatah Inggris, "There's nothing new under the sun." Ide sendiri tidak ada yang benar-benar orisinal sekarang. Jadi jangan terlalu ngotot untuk mencari ide yang orisinal.

Ada sisi lain dari pepatah itu, tambah Isman. Ide-ide hebat sekarang sebenarnya merupakan pengolahan dari ide-ide hebat sebelumnya. Bahkan konsep segar atau baru sendiri merupakan perbandingan dengan ide sebelumnya. Ide segar menggunakan pendekatan yang relatif berbeda dengan gagasan pada umumnya. "Itulah yang perlu kita arah," ucap Isman. "Pendekatan yang segar dan otentik. Jangan terlalu terpaku untuk mencari ide orisinal, tapi bikinlah ide itu menjadi khas kita. Otentik."

Donna mengajukan contoh, "Banyak cerita yang mengeksploitasi jeleknya hubungan keluarga. Karena itu, saya malah melakukan sebaliknya. Dalam Quarter Life Fear, Saya membuat hubungan antara tokoh utama dengan orangtuanya sangat dekat. Bahkan saking dekatnya, tak jarang sang tokoh utama merasa sesak sendiri saat butuh privasi. Dan di situlah muncul konflik." Banyak pembaca yang menyukai tokoh Mama Belinda ini, menurut Donna. "Sampai pada ngirim e-mail, bilang pengin punya ibu seperti itu," gelak Donna. "Dan ada juga yang berkomentar, 'Wah, ini kayak Mama gue banget!'"

Isman menyodorkan contoh lain dari buku nonfiksinya, Bertanya atau Mati, "Pernah memerhatikan kebiasaan orang untuk bilang, 'Kapan nyusul'?" tanyanya. Saat orang lain wisuda: Kapan nyusul? Saat ada yang menikah: Kapan nyusul? Saat ada teman yang melahirkan: Kapan nyusul? "Saya coba menawarkan pandangan yang berbeda: kenapa buru-buru sih?" ujar Isman. "Gimana kalau saya ngunjungin rumah duka? Apa nanti saya ditodong juga: Kapan nyusul? Dengan penggambaran itu, saya menyampaikan pendapat bahwa hidup itu bukan perlombaan. Nyante aja. Masing-masing ada waktunya sendiri."

Jadilah otentik. Cari pendekatan yang segar, bukan ide baru. Dan temukanlah pendekatan itu dengan terus berkarya.

Ngobrol Seru (tapi Santai) di Rumah Alebene

Pada hari Sabtu (27 Januari 2007), jam tiga sore, empat orang penulis Gramedia Pustaka Utama (GPU) berkumpul di Rumah Alebene Bandung untuk membahas satu pertanyaan utama: Apakah menulis bisa menjadi pilihan profesi?

Sebagai pembuka, Isman dan Donna membahas berbagai jalur karier yang bisa ditempuh seorang penulis. Misalnya: copywriter (penulis naskah komunikasi pemasaran/iklan), penulis skenario, penulis artikel/kolom, maupun penulis buku. Selain menerbitkan buku, Donna dan Isman sendiri adalah penulis lepas. Mereka berdua telah menjalankan berbagai proyek copywriting, penulisan artikel/kolom, maupun penulisan skenario (walau bukan untuk media televisi).

Berbagai jalur tersebut bisa ditempuh dalam dua bentuk keterikatan: penulis lepas (freelance) maupun penulis di bawah perusahaan. Atau dalam dua bentuk komitmen: penulis paro-waktu (part-time) maupun penuh-waktu (full-time).

Luna melanjutkan dengan mengapa ia memilih untuk menjadi penulis buku penuh-waktu. "Padahal, saya nggak pernah bercita-cita jadi penulis," ujar lelaki yang sering dikira perempuan karena nama penanya. Namun, semenjak naskahnya diterbitkan pada tahun 2005, ia berfokus ke penulisan buku. Dan kini, ia sudah menerbitkan delapan buku di tiga penerbit. Empat judul terakhir diterbitkan GPU.

Bacem, yang datang terlambat, juga tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Namun, alasannya berbeda. "Niatnya sih mau jadi foto model," ujar penulis yang lebih senang dipanggil Acem. "Tapi kurang ganteng. Jadi we penulis."

"Terlepas dari alasan pribadi," lanjut Isman. "Sebelum memilih jadi penulis, kita perlu mencari tahu segala hal berkaitan dunia yang akan kita terjuni." Ia memasang sebuah klip video pendek tentang seekor anjing galak di balik pagar kayu yang menyalaki seorang lelaki. Merasa terlindungi pagar, si lelaki balik mengganggu si anjing sambil jalan. Tanpa ia sadari, tiga meter di depannya, ada celah besar di antara pagar.

Isman mengaitkan analogi itu ke dunia penerbitan buku. Jika ingin terjun sebagai penulis buku penuh-waktu, salah satu yang mutlak perlu adalah perencanaan finansial. Penerbit pada umumnya membayarkan royalti hanya dua atau tiga kali dalam setahun. Berarti dalam empat atau enam bulan sekali. Jika ini adalah satu-satunya sumber penghasilan, perlu perencanaan yang ketat akan pembelanjaan dan prakiraan pendapatannya. Terutama karena prakiraan itu akan sering meleset, tergantung berapa penjualan buku.

Donna berbagi tentang satu detail kehidupan penulis, "Orang-orang di sekitar kita nggak akan ngerti." Bersiap-siaplah akan teman atau keluarga yang mengira seorang penulis selalu memiliki waktu luang. Jangan kaget jika banyak orang yang mengira kehidupan penulis itu begitu glamor dan mudah. Padahal sama saja seperti profesi lain: perlu disiplin yang kuat, terutama melawan kemungkinan stres.

Luna menyumbangkan pendapat bahwa, "Kalau sudah milih mau jadi penulis, memang harus disiplin." Setelah berpikir lama, Acem langsung menambahkan, "Idem." Pada saat ini, Isman, Donna, dan Luna berusaha merebut mik dari tangan Acem.

Donna yang berhasil mendapatkan mik menegaskan bahwa seorang berprofesi penulis perlu menjadwalkan waktu khusus untuk menulis. Misalnya satu jam. Berapapun hasilnya, tidak masalah. Ada hari di mana dalam sejam bisa menghasilkan dua puluh halaman. Namun, bisa juga hanya dua puluh kata. Tapi satu jam itu harus ada tiap hari.

Diskusi berlanjut ke proses kreatif masing-masing penulis. Luna, Donna, dan Bacem memiliki pendekatan berbeda-beda terhadap menulis. "Dan itu wajar," ujar Donna. "Karena tidak ada standar baku untuk kreativitas." Sebagaimana pula metode tiap orang untuk disiplin maupun mengelola waktu berbeda-beda. Perbedaan metode tidak penting. Yang penting adalah pelaksanaan.


Bagi-bagi hadiah
Setiap penanya mendapatkan kalendar GPU. Di klimaks acara, Isman memimpin game Sambung Satu Kata. Para hadirin yang berminat ikut tinggal berdiri. Sekitar tiga perempat hadirin berdiri. Dimulai dari para penulis, tiap orang mengucapkan satu kata. Peserta berikutnya harus menyambung dengan kata lain sehingga membentuk kalimat yang logis. Jika seorang peserta merasa untaian kata-kata sebelumnya sudah membentuk satu kalimat utuh, ia boleh mengucapkan "Titik!" Ini akan membuat kalimat berakhir. Dan orang berikutnya mulai dari kalimat baru.

Menurut Isman, game ini sebenarnya adalah salah satu permainan kepenulisan untuk melawan kepenatan atau kemacetan dalam berkarya. "Tapi [game ini] juga asik untuk rame-ramean."

Game berjalan meriah. Persaingan pun semakin ketat saat mencapai tiga finalis. Di sini, peserta yang bisa mendapatkan "Titik" akan menjadi pemenang pertama dan berhak atas paket hosting gratis setahun dengan kapasitas 50MB dari Qwords. Dia juga berhak memilih judul buku yang jadi hadiah. Plus boneka tokoh anjing bernama Spot, berdasarkan seri buku anak populer karangan Eric Hill. Dua pemenang berikutnya mendapatkan paket hosting 25MB dan pilihan buku lain.(1)

Sebagai penutup, Donna membagikan tas GPU bertuliskan "Too Many Books Won't Kill You" yang cocok untuk para pencinta buku. Dan Isman merangkum obrolan selama dua jam, "Apakah penulis bisa menjadi pilihan profesi? Bisa. Namun, jangan jadikan penerbitan buku sebagai penunjang kebutuhan finansial utama. Kecuali kita telah memiliki perencanaan dan disiplin finansial yang kuat." Alternatifnya adalah menjadi penulis lepas selain penulis buku. Atau menjadikan penulisan buku sebagai profesi sampingan. Bisa juga menjadi penulis di bawah naungan perusahaan, misalnya copywriter agensi periklanan.

Akhir kata: apapun pilihan jalur karier kepenulisan Anda, teruslah berkarya!2
_____________

1: Salah seorang pemenang sepertinya tidak sadar kalau ia ikut mendapatkan paket hosting dan langsung pulang. Jika Anda adalah pemenang tersebut, segera hubungi rendy_m_aATyahooDOTcom.

2: Terima kasih kepada rekan-rekan GPU, Rumah Alebene, dan Qwords atas kerja samanya. Juga kepada para hadirin yang turut meramaikan dengan pertanyaan dan partisipasinya. Kalianlah yang membuat obrolan ini jadi seru.

Ngobrol Soal Identitas Kepenulisan

(Dialog berikut saya kutip dari diskusi dalam milis Writer's Tavern, antara saya, Wicak, dan donna.)




Wicak:

Hmm... Isman, saya tertarik dengan urut-urutan itu. Mau nggak menjelaskan lebih lanjut soal 'identitas diri yang kuat' sebelum 'berkarya secara konsisten'. Apa yang dimaksud dengan identitas diri dan kapan seseorang tahu dia sudah memiliki identitas diri yang kuat?


donna:
Soal identitas diri, mungkin more or less begini ya. Seorang penulis itu idealnya punya idealisme atau setidaknya sesuatu yang ingin ia sampaikan via tulisannya. (setidaknya ini menurutku) Dia juga sebaiknya tahu, tujuannya menulis untuk apa, apa dia berencana mengembangkan kemampuan menulisnya atau tidak, apa dia hanya menjadikan menulis sebagai hobi atau memang berniat menulis pro, dll.


isman:

Kira-kira begitu. Dia tahu dan sadar bahwa dia menulis itu karena apa dan untuk apa. Jadi rutinitas berkaryanya konsisten dengan identitas ini. Kalau berkarya secara rutin tapi tidak ada identitas, jadinya sekadar hasil. Karena mau konsisten dengan apa?

Dan identitas ini tidak harus ideal. Saya kenal dengan seorang penulis yang terbuka menyatakan bahwa ia menulis untuk uang. Dan saya cukup menghormati dia karena ia konsisten dengan itu. Tidak mengumbar idealisme. Dan tetap rutin berkarya. Praktis saja. Toh banyak juga arsitek dan seniman yang berkarya untuk uang. Apa bedanya dengan penulis?

Nah, ia menyadari dan merangkul identitas kepenulisannya. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bisa jadi ketidakbahagiaan; karena ingin membuat karya yang laku, tapi takut dicap sekadar "mencari uang". Padahal persepsi orang lain itu kalah penting dibandingkan persepsi diri sendiri.


Wicak:
Apakah identitas diri yang kuat sama dengan seseorang telah mencapai tingkat selebritas tertentu atau kepakaran atau bagaimana?


isman:
Tingkat selebritas atau kepakaran itu lebih ke arah citra diri, Cak. Konteks "identitas"-nya bermain di ranah persepsi publik. Orang lain.

Sementara identitas yang kumaksud di sini berlaku dalam ranah persepsi diri. Kalau identitas diri secara umum mungkin bisa dicari dengan pertanyaan: "Untuk apa kita dilahirkan di dunia ini?"

Sementara identitas kepenulisan bisa dijelajahi dengan pertanyaan: "Kenapa kita menulis?" Jawabannya, tentu saja, perlu lebih dalam dari sekadar "Suka aja." Satu pertanyaan itu akan menghasilkan cabang-cabang seperti:
  • Apakah pesan yang ingin kau sampaikan? Kalau tidak ada, kenapa? Kalau ya, apa dan kenapa?

  • Apa yang membuatmu tetap menulis? Apa yang bisa membuatmu berhenti menulis?

  • Apa yang kau anggap sebagai keberhasilan dalam menulis? Apa yang kau anggap sebagai kegagalan dalam menulis?

Dan masih banyak lagi. Kita memiliki identitas yang kuat saat bisa menjawab pertanyaan apa pun yang muncul berkaitan itu.

Dari deskripsi milis ini juga bisa dilihat: perbedaan penulis pribadi dan profesional dibedakan dari karakteristik identitas. Bukan dari kompetensi. Karakteristik penulis pribadi yang utama, ya hanya menulis untuk diri sendiri. Yang ekstrem, orang lain tidak boleh baca. Kalaupun ada yang baca, komentar apa pun tidak pengaruh baginya.

Penulis profesional menulis untuk orang lain. Karena itu, label "profesional"--selain dari bagian dari identitas--menjadi tuntutan. Kalau sekadar ingin membuat semau kita tanpa memedulikan pembaca, itu belum sepenuhnya profesional. Masih menuju, lah. Asalkan memang dalam proses belajar.

Kekaburan antara karakteristik identitas ini bisa menghasilkan konflik. Contoh yang jamak: Mau menulis untuk orang lain, tapi takut untuk mencoba. Atau menulis untuk pribadi, tapi memendam keinginan untuk diakui (atau dipuji) oleh orang lain.

Konflik ini bisa hilang dengan mengemban identitas yang jelas.


donna:
Seorang penulis yang menurutku identitas dirinya kuat, tahu di mana dia sebaiknya "bermain". Misalnya dia bagusnya nulis fantasy, tapi karena suka banget ama genre romance atau comedy maksain nulis, hasilnya belum tentu optimal.


isman:
Itu juga salah satu karakteristik identitas. Tapi jangan salah mengartikan identitas sebagai pembatasan. Bebas saja mengeksplorasi genre lain yang bukan kompetensi utama kita. Asalkan ingat kembali tuntutan "profesional". Kalau memang mau beralih genre, kita harus memastikan bahwa itu adalah karya yang dihasilkan dengan upaya terbaik kita--dengan memerhatikan pembaca.


donna:
Sebaiknya juga, dia tahu kelebihan dan kekurangannya apa, dan berusaha banget memoles kemampuannya terus-menerus supaya tidak stagnan.


isman:
Iya. Kalau sesuai identitasnya. Siapa tahu memang ia bahagia sebagai penulis yang stagnan. (Bisa saja terjadi. Walau belum pernah ketemu orangnya sih.)


Wicak:
Thanks atas pencerahannya.


isman:

Wehehe, semoga nggak malah jadi makin gelap. Ini cuman pendapat saya, lho. Bisa aja beda.

Intinya, aku rewel berkaitan identitas kepenulisan ini karena menyangkut kebahagiaan. Jujur saja, kehidupan seorang penulis akan sering sekali diancam ketidakbahagiaan. Yang utama adalah ancaman mental maupun sosial.

Tapi, asalkan identitas kepenulisan kita jelas dan kuat, kita akan bisa menghadapi ancaman apa pun (menyangkut kepenulisan, ya. Ditodong garong sih beda masalah.) Jangan salah, bahkan keberhasilan (contohnya kelarisan suatu buku) pun adalah suatu ancaman; apakah ia tetap bahagia jika buku berikutnya tidak laku? Apakah ia jadi tidak bahagia karena merasa "disetir" untuk menghasilkan karya yang memuaskan pembaca setianya? Pergelutan akan terus terjadi.

Bisa saja seorang penulis tidak sadar bahwa identitas kepenulisannya kuat. Yang ia tahu hanyalah: ia bahagia dengan menulis (baik saat melakukannya maupun tidak).

Itu sudah lebih dari cukup.

Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa penulis yang baik adalah penulis yang tidak bahagia. Saya menentang pendapat itu. Bagaimana dengan teman-teman?