Kamis, 02 April 2009

UWRF 2007: Berbincang dengan Kiran Desai

Setelah menghilang beberapa tahun, Kiran Desai muncul kembali dengan novel keduanya, Inheritance of Loss, yang langsung memenangkan Man Booker Prize. Kiran menjadi wanita termuda yang memenangkan salah satu penghargaan sastra yang paling bergengsi di dunia ini.

Setelah memperkenalkan Kiran, sang moderator, Nury Vitacchi langsung menodong, "Ayo mengaku saja, ibumu (Anita Desai) yang menulisnya, kan?"

Setelah tawanya mereda, Kiran menjelaskan bahwa ia pun baru menyadari setelah besar bahwa saat di New Delhi, ia tinggal di dekat dua penulis India legendaris. Salah satu di antara mereka bahkan merupakan teman masa kecil ibunya.

"Apakah itu yang mendorong kamu bercita-cita jadi penulis dari kecil?" tanya Nury.

"Tidak. Saya ingin jadi ilmuwan," jawab Kiran. Tapi kemudian ia menyadari bahwa bukan itu yang ia inginkan. Apalagi setelah mempelajari hal-hal seperti kanibalisme jangkrik, walaupun itu adalah salah satu hal yang akhirnya ia gunakan dalam novelnya. Ia mulai menulis setelah mengikuti sebuah lokakarya penulisan. Naskah pertamanya berjudul Twilight and the Office Manuals. Nury langsung berkomentar bahwa pemilihan judulnya sudah jauh lebih membaik sekarang.

Dalam Inheritance of Loss, ada deskripsi memikat mengenai sebuah rumah di tengah hutan. "Bagaimana cara kamu menulis adegan itu?" tanya Nury. "Apakah kamu harus pergi ke satu tempat khusus untuk menulisnya?"

Kiran menggeleng dan berkata bahwa dia menulis di mana saja. "Tapi tidak (termasuk) New York," tambahnya sambil tersenyum. Menurutnya memang ironis bahwa dia harus meninggalkan kota tempat tinggalnya demi menulis.

Nury menanyakan keadaan finansial Kiran. "Apakah kamu ada mata pencaharian lain (di luar menulis)?"

"Tidak," ujar Kiran. Sumber dananya hanya dari royalti novel pertamanya, Hullabaloo in the Guava Orchard, yang sempat memenangkan penghargaan sastra. Dan itu pun terbatas. Sehingga walaupun ia masih bisa makan, ia mengalami kesulitan untuk membayar berbagai tagihan. Kiran bergurau bahwa ia sampai sempat merenungkan nasihat (orang-orang tua India) untuk menikahi seorang pria pebisnis kaya. Namun, ia menyadari bahwa ia sudah melewatkan kesempatan itu pada usianya sekarang (36 tahun pada tanggal 3 September lalu).

"Apakah itu sebabnya kamu menghilang setelah novel pertamamu pada tahun 1998?" tanya Nury. Kiran baru muncul kembali pada tahun 2006 dengan novel keduanya ini.

Kiran mulai menjelaskan, bahwa pertama-tama, draf pertama naskahnya mencapai 1500 halaman. Pada akhirnya, ia berhasil menyunting naskah tersebut menjadi 500 halaman. Tapi bahkan setelah itu selesai, semua penerbit di Inggris menolak menerbitkannya. Semua editor yang ia temui takut menyentuh naskah tersebut. "Jadi siapa lagi yang bisa menyuntingnya?" ujar Kiran. Ia kemudian terpaksa mencari editor lepas. Bahkan editor itu pun menyuarakan pendapat serupa, "[Cerita] ini tidak akan laku." Seorang editor dari The New Yorker bahkan berkata, "Ini adalah buku terburuk yang pernah kubaca."

Setelah memenangkan penghargaan Man Booker Prize, Kiran sempat bertemu dengan editor itu lagi. Dan sang editor berkomentar bahwa, "yang sekarang jauh berbeda dari yang kubaca dulu."

"Sama sekali tidak," ujar Kiran kepada para hadirin. "Ini buku yang sama."

Ayah Kiran juga memberikan komentar, walau hanya menyangkut judul, "Kenapa judulnya begitu? Kenapa kamu tidak menamainya The Loss of Inheritance saja?" Di tengah tawa, Kiran menambahkan, "Dan ia mengira bahwa semua orang akan lebih mudah menangkap [judul itu]."

Kiran mengamati bahwa sebagian besar cerita fiksi sekarang terlihat begitu sempurna. Tertulis sempurna dan terbaca sempurna. Dia mencontohkan cerita-cerita di The New Yorker yang begitu sempurna sehingga "terasa seperti periklanan." Cerita-cerita tersebut bagaikan ditulis untuk orang-orang yang sempurna. "Padahal, kita sama sekali bukan."

Pada sesi tanya jawab, seseorang bertanya bagaimana Kiran menulis novelnya. Apakah ia membuat kerangka terlebih dahulu?

Kiran menggeleng, "Saya tidak memiliki disiplin sama sekali dalam menulis." Ia menjelaskan bahwa ia hanya menuliskan semuanya. Dan kemudian meng-"cut and paste" bagian-bagian hingga terasa benar. Ia menstrukturkan tulisannya berdasarkan emosi yang ingin ia curahkan.

"Apakah Anda menulis novel dengan mengira-ngira seperti apa emosi seseorang ketika membacanya?" tanya seorang lagi. "Tidak," jawab Kiran. "Saya tidak bisa mengukur apa yang akan seseorang rasakan saat membaca karya saya." Menurutnya, dua orang bisa saja mengalami perasaan yang berbeda ketika membaca novel yang sama.

Ketika ditanya apakah kesuksesan dramatis buku keduanya, setelah ditolak oleh begitu banyak penerbit, membuatnya menjadi lebih percaya diri dalam menulis, Kiran menjawab, "Penulisan [kreatif] timbul dari keraguan."

Kiran juga berkomentar bagaimana ia menikmati sambutan Indonesia yang jauh lebih ramah daripada negara-negara Eropa yang pernah ia kunjungi. Imigrasi di benua Eropa cenderung memandangnya dengan penuh curiga. Nury mengakhiri dengan cerita tentang seorang penulis India pernah dipersulit di bagian imigrasi sebuah negara Eropa.

Alasannya? Karena pihak imigrasi mengira penulis tersebut ingin menyelundup masuk untuk menjadi pencuci piring di restoran kari India.

Jalur Ide Bebas Hambatan

Ada satu lagi hambatan kita untuk segera menangkap dan menuliskan ide. Yakni kebingungan: bagaimana kita memulai? Orang yang kebingungan di sini biasanya mengeluhkan bahwa mereka sudah mencari-cari, tapi terus-menerus hanya menemukan bangkai.

Orang-orang ini biasanya berusaha memecahkan masalah mereka dengan duduk di depan meja dan memeras otak habis-habisan. Melanjutkan analogi saya tentang ide seperti kunang-kunang, tindakan ini seperti mengurung diri di tengah lingkaran api, lantas mempertanyakan kenapa kunang-kunang tidak ada yang datang. Kalaupun ada kunang-kunang yang menerobos dengan semangat banzai, mereka tidak akan dapat melihatnya. Terlalu terang.

Padamkanlah api di sekeliling kita. Atau keluar saja dari lingkaran itu.

Kembali pada penulisan, ini berarti gantilah cara yang menggorok inspirasi sendiri itu. Cobalah kembalikan rasa senang kita akan menulis. Atau berehat saja. Keluar dari ruangan. Cari aktivitas lain di luar menulis. Atau geluti kegiatan menulis bersama teman. Saat kita rileks, tiba-tiba saja kita menyadari banyak ide berseliweran di sekitar kita. Sebenarnya dari tadi mereka ada. Hanya kita yang berubah. Sekarang kita bisa menemukan mereka.

Salah dua hal yang menggorok inspirasi sendiri adalah rutinitas dan pola yang mengalami kejenuhan. Dami Sidharta menuliskan saran Erik Vervroegen, Executive Creative Director TBWA Paris, agar kita tidak terjebak dengan satu gaya penulisan saja.

...jangan terjebak dengan satu gaya beriklan. Biasanya seseorang akan punya gaya favoritnya sendiri, entah itu humor, mendayu-dayu, dll. Biasain untuk mencari dan nyoba gaya yang laen. Demo ad, beautiful ad, highjack ad, in front/behind ad, literal, guerilla, riddles, before/after, visual puns, bermain dengan media, copy heavy, big production, "UFO" ad, print ad filmed, comedy, beautiful story, parody, konseptual, dan masih banyak lagi gaya yang bisa kita coba. Jadi bukan cuma print ad visual puns tanpa copy dengan logo kecil di pojok kanan aja yang bisa disebut iklan.

Memang dia berbicara dalam konteks iklan. Namun, saran ini berlaku untuk penulisan kreatif secara umum.

Tanyakan pada diri sendiri:

  1. Apakah kita terlalu suka pada satu bentuk penceritaan tertentu?
    Apakah kita terus menulis cerpen tanpa pernah mencoba, misalnya, cerber, novela, flash-fiction, memoar, dll?

  2. Apakah kita tidak pernah mencoba menulis karya dengan gaya berbeda?
    Humor, kontemplatif, aliran-kesadaran, horor, thriller, romansa, di-luar-dunia-ini, atau cari sendiri gaya yang berbeda. Humor saja memiliki banyak gaya: satir, humor pengamatan, humor kelam, parodi, pengejekan-diri, atau humor dalam karung (gaya bebas tanpa pola--sehingga kejutan bisa muncul di mana-mana. Salah satu contoh penulis Indonesia yang fasih dalam gaya ini adalah Raditya Dika).

  3. Apakah kita selalu menulis untuk tipe pembaca yang sama?
    Anak-anak, praremaja, remaja, pemuda (young adults), dewasa. Lebih drastis lagi, cobalah menulis untuk kucing Anda. Kira-kira seperti apa bentuknya?

  4. Kalau Anda selama ini menulis prosa, pernahkah menulis puisi? Lirik musik? Haiku? Skrip? Sebaliknya juga berlaku.

  5. Kalau selama ini kita hanya berkutat dengan teks, pernahkah kita mencoba menggabungkannya dengan elemen visual? Pernahkan mencoba membuat caption (teks di bawah foto/gambar)? Copy iklan? Komik? Rangkaian slide presentasi? Suka menonton film asing? Cobalah bikin subtitel sendiri yang membuat ceritanya jadi jauh berbeda. Ubahlah One Litre of Tears jadi film horor, misalnya.


Temukanlah kebiasaan diri kita yang telah menjadi pola. Atau lebih gawat lagi: rutinitas. Dobraklah rutinitas itu. Kembalikan tiap sesi penulisan menjadi jalur ide yang bebas hambatan.

Cara Mengatasi Kebuntuan Menulis

Dalam Ubud Writers and Readers Festival 2007, saya sempat ngobrol dengan Miles Merrill, seorang penyair dan pementas puisi, yang berkata bahwa sumber inspirasinya adalah kehidupan. Itulah yang ia tulis. Karena itu, saat mengalami kebuntuan dalam menulis, ia akan keluar dan merangkul hidup, alih-alih mendekap di kamar.

Jika kita mengalami kebuntuan karena kesulitan memilih kata, ia memberikan tip berikut, "Putarlah sebuah lagu tanpa lirik, dan tulislah apa saja yang muncul dalam benak kita."

Jangan takut menodai kertas dengan coretan atau kata-kata yang tak akan terpakai. Justru diksi yang memikat itu baru bisa muncul di antara untaian kata yang tampak tak menarik. Seperti mencari biji emas di antara pasir. Kalau kita tidak menyerok pasir itu, kita tidak akan menemukan emasnya.

Wiratmadinata, seorang penulis dan penyair berlatar belakang jurnalistik, menyampaikan hal serupa dengan cara lain, "Saya akan menulis dan terus menulis. Hingga akhirnya terbiasa. Pada saat itu, [saya] akan sampai pada titik di mana saya tidak bisa berpikir tanpa menulis."

Intinya, yang menciptakan kebuntuan itu adalah keengganan kita sendiri untuk menulis. Karena itu, jalan keluarnya adalah mendobraknya. Dengan menulis.

Bertapa Kala Menyusun Naskah?

Dalam kehidupan penulis aktif, frekuensi interaksi sosial sering kali berbanding terbalik dengan produktivitas berkarya. Padahal sebenarnya tidak mutlak begitu. Umumnya, para penulis enggan lepas dari naskah karena usaha bersosialisasi yang sering kali malah kontraproduktif. Teman-teman yang kurang paham, masukan yang malah melemahkan semangat, maupun jalur percakapan yang membuat kita merasa asing; ini baru tiga contoh tipe interaksi yang membuat kita lebih memilih mengunci diri di ruang kerja.

Perhatikan saja; ketika seorang penulis mengeluhkan kemandekan penulisan naskah ke temannya, reaksi yang ada biasanya:

  • Sekadar menyemangati
    Lebih gawat lagi kalau dengan cara yang salah seperti, "Jangan gitu dong! Yang semangat!" Seakan-akan suasana hati itu tidak boleh turun sama sekali.

  • Malah menunjukkan kekaguman, "Wah, produktif amat, ya?"
    Padahal ini tidak membantu. Malah memberikan rasa kepuasan palsu pada kita. Puas, karena kita merasa senang dianggap produktif. Terasa ada prestasi (sense of accomplishment). Tapi palsu, karena pada kenyataannya: naskah tetap mandek selama tidak kita teruskan.

  • Overkritik tidak membantu.
    Contoh: "Makanya, seharusnya kau pakailah teknik penulisan si Stephen King itu. Jangan cuman hantam kromo dong. Dia produktif banget tuh."
    (Bagi yang tidak mengerti, tidak ada gunanya menyuruh penulis untuk seperti orang ini atau seperti orang itu. Itu sama saja seperti kita protes ke masinis kereta, "Mas, pakai teknik nyetir mobil dong. Mobil kan beloknya bisa bebas tuh.")

Karena itu, saya biasanya menganjurkan kepada penulis yang sedang menyusun naskah agar tidak meminta masukan secara sembarang. Lebih baik dia hanya bertanya kepada Sang Editor.

Sang Editor adalah seseorang yang bisa mendukung kita untuk terus menulis dan membuat kita semakin matang. Jangan salah, Sang Editor ini biasanya bukanlah benar-benar editor. Berbeda-beda bagi tiap penulis, tidak jarang Sang Editor bagi seorang penulis berganti seiring waktu.

Sang Editor saya pada tahun 1999-2001 adalah seorang atasan yang sama sekali tidak berlatar belakang industri perbukuan. Ia hanyalah seorang pelahap bacaan dan humor Amerika yang hebat. Dia bisa membaca artikel humor (800 kata) saya dan dalam lima menit menunjukkan tiga hal yang bisa membuatnya lebih lucu dan mengena. Tanpa diminta, dia memberikan saya bacaan-bacaan yang membuka wawasan saya tentang menulis. Dia bahkan membuat saya menyadari bahwa kehadiran (maupun kekurangan) satu koma bisa menghancurkan punchline. Dia membuat saya awas tentang kehebatan pewaktuan (timing). Semua wawasan yang mungkin perlu dipelajari menulis humor selama bertahun-tahun, saya sadari hanya dari beberapa kali interaksi bersamanya.

Di sini mungkin ada yang berkomentar, "Jadi penulis hanya bisa ngobrol dengan Sang Editor? Sedih amat!" Santai saja. Karena macam rekan interaksi sosial yang dibutuhkan penulis lebih dari itu. Masih ada:

  • Teman Penggagas (Idea Buddy), merupakan satu atau banyak yang dapat bersama-sama membebaskan kritik-diri dan memunculkan ide tanpa kekangan. Teater Teks Improv adalah salah satu contoh.

  • Teman Penyemangat (Cheerleader), merupakan satu atau banyak orang yang saling mendukung dalam membentuk dan melontarkan opini individu. Satu hal mengenai penulis: kita selalu punya pendapat mengenai apa pun. Namun, lebih sering kita menyimpannya untuk diri sendiri. Dan hanya mau mengeluarkannya setelah matang dalam bentuk tulisan. Penulis juga memiliki satu kecenderungan tidak ingin dinilai melalui pendapat (atau tulisan) yang "belum matang". Padahal suatu tulisan menjadi matang melalui proses tukar-balik pendapat. Di sini, pendapat apa pun didukung untuk dilontarkan. Tidak ada penyanggahan. Urun pendapat pun hanya yang bersifat penyetujuan atau dukungan. Jangan salah, penyemangatan ini pun tidak asal-asalan. Penyemangat yang baik akan memberitahu bagian apa yang ia suka dari suatu karya. Dan mengapa ia menyukainya.

  • Teman Debat/Penggodok Ide, merupakan satu atau banyak orang yang bersedia mendiskusikan gagasan kita secara gamblang. Diskusi ini adalah interaksi yang relatif lebih "brutal" daripada bersama Teman Penyemangat. Terapi yang baik bagi mereka yang mulai menderita delusi bahwa tulisannya selalu matang, bahkan jika dikerjakan asal. (Apalagi kalau terlalu lama dikelilingi Teman Penyemangat.)

  • Pensieve, diambil dari istilah ciptaan J.K. Rowling, merupakan seseorang yang membuat kita merasa aman untuk melepaskan semua unek-unek yang kita pendam selama proses penulisan. Tiada rasa takut untuk salah dimengerti. Tak akan ada perasaan prestasi palsu.

  • Teman Nongkrong (Drinking Buddy), merupakan seseorang yang bisa menemani kita di saat-saat penat, dan membuat kita merasa santai. Berbeda dengan Pensieve, interaksi kita dengan Teman Nongkrong biasanya tidak butuh banyak bicara. Yang penting adalah kehadiran dan perasaan dipahami.

Tentu saja, masih ada rekan interaksi lain. Yang penting: kenalilah kebutuhan interaksi kita. Dan temukan rekan interaksi yang sesuai. Ini akan menghindarkan kita dari kejeraan untuk bersosialisasi.

Teater Teks Improv: Ikuti Saja Aliran Cerita

Dalam tulisan mengenai mitos Writer's Block, saya pernah menyampaikan Teater Teks Improv sebagai permainan untuk melawan kebosanan menulis. Namun, seperti apakah praktik jelasnya?

Sederhana saja. Kumpulkan sejumlah penulis dalam satu text conference. Beri mereka satu kata atau frase kunci. Kemudian, mereka harus bergantian mementaskan cerita bersama-sama dalam bentuk tulisan. Tanpa diskusi cerita. Tanpa kesepakatan karakter. Dalam waktu sepuluh hingga lima belas menit.

Apa yang akan terjadi? Teater Teks Improv (TTI)! Terinspirasi oleh Teater Improv seperti Mother, TTI adalah wadah menyenangkan bagi para penulis yang ingin bersenang-senang dan tertawa bersama sambil menjalin cerita.

Dalam TTI, kita belajar untuk melepas kritik-diri yang terlalu mengungkung. Tidak apa-apa berbuat kesalahan dalam TTI karena yang penting "the show must go on", semua peserta akan saling mendukung agar pementasan terus berlanjut hingga selesai.

Sebagai contoh, dalam sebuah sesi TTI, ada salah tangkap antara penulis. Isman yang berperan sebagai Turis #1 menulis "dekat sumur". Dan Johan yang berperan sebagai Turis #2 salah baca, mengiranya "dalam sumur."

Apakah itu akan menghancurkan pentas? Sama sekali tidak. Silakan baca sendiri hasil transkripsinya di bawah. Dalam cerita ini, Alex memerankan Narator. Sementara Andi, sebagai penonton melontarkan frase kunci: Koin keberuntungan.


Narator:
Dua orang turis mendekati sebuah sumur keramat di daerah Wates. Mari kita dengarkan percakapan mereka.

Turis #1 melihat ada koin tergeletak di dekat sumur, dan langsung menginjaknya. Ia lantas bersiul-siul, sambil celinguk kanan-kiri.

Turis #2:
Mas, ngapain dalam sumur?

Turis #1:
(Kaget) Euh...
Olahraga! Saya dari Vanderstanikctan. Lompat ke dalam sumur adalah olahraga nasional kami.

Turis #2:
Oh... berapa kalori yang terbuang mas? Saya lagi dalam program diet.

Turis #1:
Tergantung berapa dalam sumurnya. Kalau lebih dari 100 meter, Anda tidak perlu khawatir akan masalah berat badan lagi.

Turis #2:
Wah benar, nih?
(Naik ke atas sumur.)
Duh, jadi lupa tadi mau ngapain.

Turis #1:
Mengangkat saya dari dalam sumur dulu ke luar sebelum mencoba sendiri?

Turis #2:
Tadi pas lompat gak mikirin cara keluarnya, yah?
(Mengulurkan tangannya.)
Mas... lihat koin saya, gak?

Turis #1:
Sebentar, itu apa, ya?
(Menunjuk ke angkasa.)

Turis #2:
Yang mana, Mas?
(Melihat ke angkasa.)
Pesawat?

Saat penolongnya menoleh, Turis #1 mengambil koin dan mengantunginya.

Turis #2 tidak menemukan apa-apa dan mengangkat bahu. Ia kembali mengulurkan tangannya, yang diterima Turis #1 dengan senang hati.

Saat Turis #2 berusaha menarik lawan bicaranya keluar sumur, ia terpeleset dan nyemplung juga, menimpa tubuh Turis #1 dengan keras.

Turis #1:
(Mengerang)
Oke, untunglah saya tidak perlu memerankan ini di dunia nyata.

Turis #2:
Mas, maaf Mas, ini bukti koin saya kalo hilang. Jadi sial terus... Gak papa, Mas?

Turis #1:
(Meringis) Nggak apa-apa.
Ngomong-ngomong, koinnya seperti apa, ya? Apa perak dengan lapis emas di pinggirnya?

Turis #2:
Sepertinya sih gitu, ada tulisan Cinanya gak, Mas?

Turis #1:
Kanji Cina yang berarti Keberuntungan bukan?

Turis #2:
Iya, yang itu!

Turis #1:
Kalau gitu seh, nggak pernah lihat.

Narator:
Hari pun semakin gelap seraya kedua orang itu menunggu di dalam sumur. Mereka sadar bahwa mereka harus keluar dari sumur itu secepatnya, tapi bagaimana?

Turis #2:
Duh, jangan-jangan masih di sini, bantuin cari dulu yah Mas, dah mulai gelap nih.

Turis #1:
Boleh! Tapi berhubung mulai gelap, bagaimana jika aku naik ke punggungmu, ke luar sumur dulu, terus cariin senter buat kita. Jadi bisa nyari semalaman, kan?

Turis #2:
Wah pinter idenya, boleh boleh...
(Membungkuk)
Mas, tengkyu yah, baek banget mau bantuin saya.

Turis #1:
Sama-sama!

Turis #1 menaiki punggung lawan bicaranya, meraih pinggir sumur dan naik. Setelah sampai di atas ia menoleh ke dalam.

Turis #1 (Cont'd):
Aku cari dulu senternya, ya? (Tersenyum sinis)
Eh, ngomong-ngomong, apa yang terjadi kalau koin keberuntunganmu di tangan orang lain?

Turis #2 tidak menjawab karena terlalu sibuk mencari-cari di dasar sumur.

Turis #1:
(Mengangkat bahu) Ya, apa pun, lah.
Semoga beruntung mencarinya!

Turis #1 melangkah pergi. Menyeringai lebar, ia melempar koin ke atas... dan tertabrak mobil.

Koin yang terlempar jatuh kembali ke sumur, tepat di hadapan Turis #2.

Turis #2:
Waah, untung aja koin saya ketemu, Mas! Kalau kepegang orang lain, kasihan orangnya. Bisa bawa sial.
(Mencoba mendengarkan jawaban yang tidak datang.)
Mas?

Buaya Merah Muda

Dalam game Persona 3, seorang pria pengidap kanker stadium akhir bertanya kepada kita, sebagai tokoh utama, "Apa pendapatmu tentang seekor buaya berwarna merah muda?"

Lantas kita perlu memilih salah satu jawaban:

  1. Keren!

  2. Nggak ada buaya berwarna merah muda.

  3. Aku nggak peduli.


Dalam dua detik pertama, jawaban apa yang otomatis Anda pilih? Simpan dulu dalam ingatan.

Lanjut pada cerita, sang pria kemudian menjelaskan, bahwa ia menganggap ide buaya merah muda itu menarik. Ia ingin menulis cerita dengan buaya tersebut sebagai tokoh utamanya. Akibat warna kulit yang mencolok, buaya tersebut tidak bisa berburu. Semua buruan langsung kabur saat ia mendekat. Kalangan buaya pun mengucilkannya. Warna kulit yang aneh membuat buaya lain merasa ngeri. Semua menjauh, takut tertular. Buaya ini pun kelaparan dan kesepian.

Ya, buaya ini adalah simbol diri sang pria yang mengalami hal serupa. Ide unik ini mampir dalam pola pikir seseorang yang menderita penyakit tak tersembuhkan. Tapi, bisa pula mampir dalam benak seseorang yang mencoba menempatkan diri dalam posisi orang lain. Dengan kata lain, orang yang tidak hanya terpaku pada pola pikir sendiri.

Pilihan jawaban di atas mencerminkan kesiapan kita menerima hal-hal yang berbeda.
Apakah kita hanya tersita oleh apa yang kita lihat atau rasakan? Dapatkah kita menerima hal-hal tak lazim sebagai kemungkinan?

Menurut Anda, seseorang yang mudah menemukan dan menangkap ide akan memilih jawaban yang mana? Ingat-ingatlah itu.

Menjotos Mitos Penulisan Kreatif: Writer's Block

Tanya (T): Bagaimana cara menghilangkan writer's block?

Jawab (J): Writer's block itu hanya mitos. Ini sekadar istilah keren-kerenan untuk menggantikan "jenuh". Semua aktivitas dan profesi juga memiliki rasa jenuh. Tapi kenapa kita nggak pernah dengar istilah "painter's block", "lawyer's block", atau "office worker's block"? Saya pribadi juga tidak pernah menyaksikan seorang aktor yang mengeluh ke sutradara, "Aku lagi actor's block nih, nggak bisa akting. Baca skrip aja mau muntah."

Lantas, kenapa hanya ada writer's block?

Kebetulan saja para penulis yang cukup kreatif untuk menciptakan istilah ini. Sayangnya, penggunaan istilah ini jadi salah kaprah. Istilah ini berguna untuk mengenali rasa jenuh yang kita alami saat menulis. Tapi bukan untuk justifikasi, atau bahkan lebih parah, alasan untuk melarikan diri dari menulis.

Saya banyak sekali bertemu penulis yang mengeluh, seakan-akan writer's block adalah semacam bencana yang tiba-tiba muncul dan menyumban keran kreativitas kita tanpa sebab yang jelas. Kesannya, writer's block adalah kutukan yang perlu kita derita dulu untuk beberapa lama. Selama kena, nggak usah nulis. Tunggu saja hilang sendiri.

Jelas, itu hanya mitos. Writer's block sebenarnya adalah rasa jenuh atau buntu. Dan kita tidak hanya bisa sekadar pasif menanggapinya. Kita mampu secara aktif mengusir rasa jenuh tersebut. Dan membuka keran kreativitas kita.


T: Tapi, nyatanya, semangat menulisku hilang. Bagaimana mengembalikannya?

J: Saat semangat menulis hilang, coba saja munculkan dengan satu cara: mengembalikan kesenangan saat menulis.

Ingat-ingat saja pada masa kecil, saat kita bermain dan bersenang-senang sama teman. Pernahkah kita tidak bersemangat dalam melakukannya? Biasanya sih tidak pernah.

Menulis juga gitu. Saat jadi rutinitas, atau malah "tuntutan" untuk berkarya, kita bisa hilang semangat. Karena menulis jadi beban.

Kalau memang ini yang kita alami, solusinya mudah: kembali saja bersenang-senang. Jangan pedulikan tuntutan atau kritik-diri. Coba saja menulis kilat, tulis semua yang mampir di otak kita. Bahkan saat kita mentok, tulis saja bahwa kita mentok.

Misalnya:
Aku sedang menulis di depan komputer. Tapi sudah itu mentok. Masih aja mentok. Gawat juga kalau mentok terus. Apa sih yang berima dengan mentok? Totok? Golok? Berkokok? Asyik juga kalau ada golok berkokok. Bisa jadi judul sinetron baru tuh, "Misteri Golok Berkokok". Kira-kira tokoh utamanya siapa ya? Konfliknya seperti apa?...

Terus aja begitu. Lama-lama jadi lancar sendiri. Dan kembali merasa bahwa menulis itu menyenangkan.

Selain sendirian, kita juga bisa memainkan penulisan kreatif bersama teman. Cerita Sambung Satu Kalimat, misalnya adalah permainan yang asyik untuk dilakukan bersama tiga orang teman. Masing-masing hanya bisa menyumbangkan satu kalimat.

Berbalas Surat dan Bermain Peran, adalah permainan penulisan lain yang cukup dimainkan berdua. Dua orang saling melempar karakter. Jadi orang pertama membuatkan karakter untuk orang kedua. Misalnya, seorang pria berusia empat puluh tahun yang buruk rupa dan suka mengaku di forum online sebagai cewek cantik berusia dua puluhan. Orang kedua balas membuatkan karakter untuk orang pertama; seorang cewek cantik jelita yang, sayangnya, merasa bahwa dirinya adalah titisan dari Don Juan. Kedua penulis ini kemudian saling berbalasan email.

Teater Teks Improv, adalah permainan penulisan bercampur teater improv yang dilakukan secara konferensi online. Empat orang, misalnya, bergabung dalam konferensi Yahoo, lantas berbagi peran. Satu orang jadi penonton, satu orang jadi narator, sisanya jadi aktor. Penonton akan melemparkan kata atau frase kunci. Misalnya, "ember merah". Lantas, dimulai dari narator, cerita pun mengalir melalui improvisasi para pemain di "panggung".

Interpretasi terhadap frase kunci bisa harfiah. Misalnya, para aktor memperebutkan sebuah ember merah di sebuah bursa murah. Atau bisa juga para aktor menginterpretasikannya "ember merah" sebagai wadah yang penuh semangat. Lantas mementaskan cerita tentang organisasi politik sekumpulan pemuda yang antusias.

Intinya, jika jenuh, rehatlah. Bersenang-senang. Inspirasi tidak akan mampir pada otak yang jenuh. Tapi juga tidak akan bertandang pada otak malas yang hanya menunggu.